Posted by: Sps | April 8, 2010

Efek Obat Timbulkan Hepatitis

Anda yang sering mengonsumsi obat-obatan, baik itu resep dokter maupun obat analgetik (yang mudah diperoleh di toko-toko), sebaiknya waspada. Kebiasaan seperti ini bisa berakibat Hepatitis Imbas Obat (HIO).

ISTILAH “hepatitis” digunakan untuk jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya berbagai macam. Salah satunya penggunaan obat-obatan. Termasuk obat jenis herbal ataupun tradisional.

Perjalanan penyakit hepatitis imbas obat ini juga bisa dimulai dari tahap akut kronis hingga sirosis. “Perjalanannya hampir sama dengan perjalanan virus, dimulai dari penyakit yang akut, kronis, hingga sirosis.

Tak jarang pula yang akhirnya berakhir ke kanker hati,” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang bertugas di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Nu’man A.S Daud, saat ditemui Fajar, Rabu, 24 Maret.

Staf penyakit dalam rumah sakit wahidin ini, mengungkapkan, pemberian obat untuk terapi penyakit tertentu bertujuan untuk mengurangi gejala bahkan dapat menghentikan proses penyakit. “Orang datang ke dokter untuk minta pengobatan.

Salah satu proses penyembuhan itu adalah terapi dokter melalui pemberian obat. Tujuannya untuk mengurangi gejala penyakitnya atau bahkan bisa menghilangkan penyebab penyakitnya,” kata Nu’man.

Akan tetapi, lanjut Nu’man, tidak jarang pula didapatkan timbulnya efek yang merugikan dari satu obat yang terjadi bersama-sama dengan efek terapi atau penyembuhan yang diharapkan atau bahkan bisa timbul efek samping sebelum tercapainya efek terapi yang diharapkan. “Itulah yang kadang-kadang menjadi pertimbangan, kapan seharusnya obat itu mulai diberikan,” kata Nu’man.

Pemberian obat dilakukan dengan melihat efek obat itu terhadap penyakit dan sistem organ. Seperti yang kita ketahui, begitu banyak organ di dalam tubuh yang memiliki banyak fungsi yang berbeda-beda.

Misalnya jika si pasien atau penderita satu penyakit, diberikan obat A, pihak dokter juga harus bisa tahu apa akibatnya. Setelah masuk ke dalam tubuh, ia masuk ke mana? Apakah organnya tidak akan mengalami masalah? Apalagi di bagian hati, karena hampir semua yang masuk ke dalam tubuh dimetabolisme di hati.

“Jangan sampai penyakit Anda misalnya jantung sembuh, tapi organ lain yang menangis kesakitan,” kata Nu’man.

Staf bagian Penyakit Dalam FK Unhas ini mengatakan, ada obat yang ketika dikonsumsi langsung memperlihatkan efeknya, baik itu proses dari terapi atau penyembuhannya maupun efek samping dari penggunaan obat. Ada yang ketika sembuh baru muncul gejala hepatitis imbas obatnya, ada yang timbul meskipun dosisi obatnya rendah, bahkan ketika dosis besar atau tinggi pun ada,” kata Nu’man.

Pria yang juga praktik di Asahi Farma, Jalan Diponegoro, Makassar ini menguraikan, berkisar tujuh persen dari pasien yang menerima pengobatan mangalami reaksi merugikan (adverse reaction) yang serius terkait dengan obat yang digunakan.

“Kelainan atau penyakit yang timbul disebut sebagai penyakit imbas-obat, yang menempati peringkat keempat hingga keenam sebagai penyebab kematian,” kata Nu’man.

Hati merupakan organ yang sangat rawan dengan efek samping penggunaan obat, karena beberapa obat dimetabolisme di hati. Hepatitis imbas obat merupakan salah satu penyakit hati yang bersifat akut (acute liver disease).

“Ratusan jenis obat dihubungkan dengan hepatotoksisitas (dapat meracuni sel hati), dari yang ringan sampai yang berakibat fatal. Hepatotoksisitas obat merupakan satu di antara berbagai peyebab terpenting penarikan atau pembatasan pemakaian obat di pasaran,” kata Nu’man.

Peran hati mengubah obat dari ikatan larut-lemak menjadi derivate yang larut, dan air merupakan peran utama pada metabolisme obat. Kerusakan hati dapat terjadi setelah pemberian obat secara inhalasi (hirup), peroral (telan atau lewat mulut) maupun parenteral (suntikan lewat pembuluh darah).

“Kerusakan hati akibat obat dapat bermanifestasi dalam bentuk jenis hepatoseluler (sitotoksik) dan kolestasis, tetapi tidak jarang gambaran kerusakannnya merupakan campuran hepatoseluler disertai kolestasis. Berkisar 10 persen dari hepatitis merupakan hepatitis imbas obat, bahkan pada orang tua, angka kejadiannya dapat mencapai 40 persen,” kata Nu’man.

Banyaknya tingkatan orang tua atau usia lanjut berkisar usia 65 tahun yang menderita hepatitis obat. Ini sangatlah berkaitan dengan adanya penurunan fungsi beberapa sistem organ seiring dengan peningkatan umur manusia yang kemudian banyak penyakit. Pengobatannya bersifat polifarmasi.

Artinya banyak obat yang dikonsumsi sekaligus. Karena umumnya masyarakat banyak yang tidak tahu, bahwa pengonsumsian obat secara bersamaan, bukan hanya obat-obat yang mengandung bahan kimia yang berdasarkan resep dari dokter yang bisa berpotensi, bahkan obat yang tanpa resep dokter atau analgetiklah yang memiliki potensi yang sangat besar untuk menyebabkan penyakit hepatitis imbas obat.

“Obat-obat yang dianggap tradisional seperti herbal dan suplemen-suplemen juga bisa mengakibatkan kerusakan pada hati,” kata Nu’man.

Ia menambahkan, penyakit ini bisa muncul dalam keadaan ada pendamping. “Artinya, ada sesuatu yang membuat keadaan diri seseorang lebih rentan terkena penyakit tersebut. Oleh karena itu ketika ditemui gejala tubuh yang mulai menguning, enzim hati tiba-tiba meningkat setelah melakukan check up, maka berhati-hatilah.

Yang paling pertama diperiksa adalah apakah ada virus dari hepatitis atau tidak. Kalau tak ada virus A, B, C, dan E di dalam tubuhnya, maka ada kemungkinan si pasien terkena hepatitis imbas obat,” kata Nu’man.

Nu’man kemudian berpesan agar pihak dokter juga harus jeli dan berusaha membuat si pasien untuk lebih terbuka. Sebaiknya terjalin komunikasi yang baik antara dokter dan pasien. Kalau ada gejala kuning, tetapi tidak ada virus di dalam tubuh pasien, sepatutnya si dokter menanyakan obat terakhir yang ia konsumsi. “Hindari mengonsumsi obat analgetik,” kata Nu’man. (*)

Sumber: Fajar.co.id


Responses

  1. Saya pernah mengkonsumsi xanax obat penenang & teravast obat hipertensi selama _+ 6bulan berturut2 dibawah awasan dokter jantung, dokter umum & psikiater, namun setelah 6 bulan itu saya mulai merasakan ada gejala nyeri di perut kanan atas bawah iga & kadang menjalar ke kiri atas bawah iga & kadang malah ditengah2 perut bagian atas. pernah sy cek ke dokter umum memang ada gejala liver, namun jk sy minum obat dr dokter tsb malah tambah nyeri bukannya sembuh, jadi sy mencoba beralih ke herbal, selama 1bln sy mengkonsumsi rebusan pohon ciplukan + bangkang(siput kecil yg disungai) saran dr pengobat herbal yg pernah sy datangi dan sembuh total, namun 5bln kemudian oleh karena suatu aktivitas yg berlebih menyebabkan sy kelelahan & pola makan yg tdk terkontrol membuat sy merasakan nyeri serupa yaitu di perut kanan atas sampai sy tidak bs beraktivitas sama sekali, akhirnya sy cb minum parutan temulawak sampai sekarang kurang lebih sudah 1th ini sy konsumsi namun rasa nyeri itu kadang timbul & kadang hilang pernah sy cek darah kadar sgpt & sgot normal, namun nafsu makan sy tetap bagus kadang perut terasa kembung jika telat makan & badan terasa pegal2 jika kecapean berlebih, apa dokter bs bantu sy kira2 apakah sy ini ada kemungkinan terkena hepatitis akibat obat dok? dan hepatitis akibat obat ini apa bs menular? sy sudah mengalami masalah ini total selama 2th. apa saran dokter u sy? sy sudah terlanjur trauma dg obat konvensional dok. fland_ors@plasa.com

    • Maaf, apakah anda benar-benar sudah memeriksakan ke dokter yang pas. Cobalah ke dokter yang mempunyai reputasi yang bagus.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: