Posted by: Sps | November 17, 2009

Kesehatan Mental Kita Dipertanyakan

Zaman telah berubah, bergeseran nilai makin terasakan. Orang makin tak mampu membedakan salah dan benar, baik dan buruk.

Apa bedanya hari ini dengan 20 tahun kebelakang dalam bidang kesehatan mental? Ditengarai hari ini kondisi kesehatan mental masyarakat kita semakin merosot. Hal itu dapat dilihat dari beberapa indikasi, misalnya semakin merosotnya kemampuan orang untuk membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang salah dan yang benar, juga semakin menipisnya rasa malu, hilangnya rasa bersalah, merosotnya standar moral dan sebagainya.

Seorang doktor di bidang neuro science dari Universitas Gadjah Mada bahkan menyebut betapa banyak pejabat tinggi negara kita yang bukan hanya mengalami kemerosotan kesehatan mental, melainkan sudah dapat dikategorikan psikopat alias penyakit kejiwaan.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai suatu kondisi kesehatan dimana individu menyadari kemampuannya, dapat menyesuaikan diri dengan tekanan hidup yang wajar, dapat bekerja secara produktif dan secara berhasil, dan mampu untuk memberikan suatu kontribusi positif bagi masyarakatnya.

Dalam kaitan ini, berarti kesehatan mental lebih dari sekadar tidak adanya gangguan mental atau penyakit mental. Ada berbagai dampak sosial, kultural, fisik dan pendidikan yang dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Perubahan nilai

Perubahan standar nilai dalam masyarakat itu oleh Prof. DR. Komaruddin Hidayat antara lain dibuktikan dengan tak adanya rasa malu lagi ketika mengalami perceraian, semuanya diungkap secara terbuka. Ia memberi contoh kasus para selebriti yang rumah tangganya gonjang-ganjing, justru ketika ekonomi mereka sudah mapan.

Setelah sukses, suami atau istri merasa tidak cocok lagi dengan pasangan hidupnya, sedangkan mereka bertemu ketika keduanya masih sama-sama miskin. “Mereka menganggap pasangan ibarat barang, sehingga tidak menjaga etika atau rasa hormat terhadap pasangan,” ujar Prof. Komaruddin prihatin.

Kawin-cerai, hamil di luar nikah bukan hal yang tabu lagi. Sehingga ada anggapan, orang sekarang lebih mudah menerima soal kawin-cerai ketimbang 20 tahun lalu misalnya. “Ini memang menyangkut perubahan kaidah sosial,” ujar DR. Monty P Satiadarma, MS/AT, MCP/MFCC, DCH, Psi.

Setiap hari kita juga menerima berita tentang koruptor yang tidak merasa malu mencuri uang rakyat, pejabat negara yang tidak merasa bersalah melindungi koruptor, kelompok teroris yang justru dipuja-puja dan lain-lain yang menjungkirbalikkan akal sehat.

Diduga kini tumbuh subur anggapan bahwa ukuran kebahagiaan hidup adalah materi belaka. “Padahal itu hanya salah satunya saja,” lanjut Prof. Komaruddin.

Ada banyak penyebab dari masalah itu. Kecepatan perubahan teknologi informatika, rasa aman yang rendah, modernitas tanpa dasar, dan perubahan situasi ekonomi politik oleh sejumlah pakar disebut-sebut sebagai faktor yang turut mengondisikan degradasi mental tersebut.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini menyebut adanya pengaruh lingkungan sosial yang menempatkan ukuran sukses berdasarkan materi semata. “I am what I have. Saya adalah apa yang saya miliki,” tandasnya.

Faktor lainnya adalah karena lemahnya pendidikan karakter dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Selain itu , banyak orang tidak cukup memahami niat atau filosofi suatu rumah tangga maupun suatu jabatan. Artinya, telah terjadi pergeseran nilai yang dipengaruhi oleh perilaku sosial.

Terjebak budaya transisi

Di sisi lain, Dr. Suryo Damono, Sp.KJ menambahkan, kalau perihal malu tidak malunya masyarakat untuk melakukan korupsi, kawin cerai, mengungkap aib rumah tangga dan lain-lain seperti yang banyak terjadi belakangan ini, hal tersebut sebagai perubahan nilai yang lebih dinilai oleh sosiolog. Sebagai dokter ahli jiwa, ia menilai bahwa boleh dibilang bahwa kita yang tinggal di kota besar selama ini telah terjebak dalam budaya transisi.

Menurutnya kita mulai meninggalkan budaya tradisional di kampung halaman dan sudah mengalami kelonggaran dalam ikatan budaya, namun sementara itu belum sepenuhnya beradaptasi dengan budaya moderen yang efektif dengan waktu, menekankan produktivitas dan berada dalam proses yang senantiasa bergerak maju.

Hal-hal yang diadaptasi justru yang serba negatif dari kehidupan urban seperti seks bebas, hura-hura di klab malam, saling tidak peduli, tidak saling kenal, egois, dan mementingkan diri sendiri. “Mereka yang berada dalam budaya transisi ini yang rentan mengalami gangguan jiwa,” kata Dr. Suryo.

Hilang budi pekerti

Selain pergeseran nilai maupun budaya transisi yang harus diwaspadai, ada hal lain juga yang harus dikhawatirkan saat ini. Yaitu perihal etika maupun budi pekerti yang tidak diajarkan lagi.

Sistem pendidikan di Indonesia yang tidak terarah membuat pendidikan perilaku tidak lagi dititikberatkan. Sebaliknya titik berat lebih banyak pada mencetak anak pintar secara akademik. Sayangnya tidak cukup bermoral, tidak paham soal disiplin waktu, pentingnya hormat kepada orang tua dan guru, dan lain sebagainya.

“Saya masih ingat, betapa senangnya kita dulu kalau membawakan tas guru atau membawa minuman untuk guru. Sayangnya hal tersebut dianggap feodal,” tegas DR. Monty. Padahal itu mengajarkan anak melayani orang lain, atau orang yang lebih tua.

Pengaruhi Kesehatan Individu

Mengapa nilai-nilai sosial hilang dari masyarakat? Itulah salah satu topik yang makin banyak dikaji oleh para ilmuwan sosial.

Menurut Prof. DR. Kamaruddin Hidayat, kini makin populer suatu analisis tentang masyarakat yang sehat, bukan saja pribadi yang sehat. Kesehatan sosial, demikian kajian itu disebut, merupakan ilmu jiwa yang melibatkan disiplin ilmu lain untuk melihat apakah suatu masyarakat sehat atau tidak.

“Masyarakat harus sehat. Sebab, masyarakat yang sakit akan memengaruhi kesehatan individu secara fisik maupun mental,” katanya.

Dalam masyarakat yang pluralistik, masing-masing daerah atau suku memiliki nilai-nilai tabu atau local wisdom yang dijaga bersama. Namun, modernisasi menggerus nilai-nilai luhur yang dulu menjadi pedoman hidup.

Kota menjadi magnet ekonomi yang luar biasa. Generasi baru akhirnya hanya mengenal budaya kota, termasuk mereka yang sengaja meninggalkan desa untuk bekerja atau menempuh pendidikan. Lalu, bertemulah orang-orang dari berbagai tradisi etnis. Akibatnya, ikatan tradisi lokal mulai kendur, budaya kompetisi lahir, dan nilai persaudaraan pun kian menipis.

“Sikap individual memunculkan kriminalitas karena tidak ada sanksi sosial. Kehidupan perkotaan memungkinkan orang hidup permisif. Kegiatan dakwah banyak, tetapi kriminalitas juga besar,” kata Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Semua itu, menurut Prof. Komar, bisa dikurangi bila hukum tegak berdiri, pendidikann maju, ada lapangan kerja, dan polisi memiliki wibawa yang tinggi. Sayangnya, kondisi yang ada telah menyebabkan “stroke sosial” karena tidak ada pemerataan.

“Di kota figur langsung tidak ada, figur itu virtual lewat televisi. Anak kecil di kota diasuh oleh televisi dan di jalan raya, sehingga mereka kebanyakan beban dan tidak aman,” paparnya.

Kehidupan kota telah merusak nilai-nilai dan membuat hal-hal tabu menjadi sesuatu hal yang biasa. Akibatnya, generasi baru diasuh oleh lingkungan yang busuk dan korup. Inilah efek runtuhnya nilai-nilai moral masyarakat yang memengaruhi kesehatan mental individu.

Ajarkan Sopan Santun

“Family is where we all come from.” Keluarga adalah dari mana setiap individu berasal. Monty mengutip kalimat dari D. Winnicott, seorang psikoanalisis ini, karena keluarga sangat penting dalam pendidikan etika maupun budi pekerti. Individu lahir dan dibesarkan di dalam keluarga. Maka, sudah selayaknya, pendidikan mengenai budi pekerti juga ditanamkan dalam keluarga.

Anak yang berkata kasar misalnya, itu karena tidak dibiasakan bertutur kata santun. Keluarga lah yang menjadi titik awal pengajaran santun dan sopan. “Kalau tidak diajarkan, anak tahu dari siapa? Memang harus dari keluarga, dan itu yang sangat penting,” tukas Monty.

Selain lewat pendidikan etika, keluarga juga mesti pintar menyeleksi hal-hal yang baik dan buruk. Dalam hal tontonan misalnya, yang kerap dianggap dapat memengaruhi kesantunan atau ucapan kasar, keluarga harus bisa memilah mana yang layak ditonton dan mana yang tidak. “Keluarga yang tidak selektif akan membuat anak bebas menonton apa saja. Padahal televisi sudah menyediakan batasan usia untuk program tontonan tertentu,” tambahnya.

Manusia punya potensi sangat besar. Ia bisa menjadi sangat positif, sangat negatif, atau di antaranya. Dan potensi apa yang muncul semuanya karena berasal dari keluarga.

Jangan terbeli janji

Selain pendidikan budi pekerti di dalam keluarga, sejumlah tindakan juga bisa dilakukan sebagai solusi untuk meminimalisasi pergeseran nilai sosial yang terjadi dalam masyarakat. Solusi yang dibagikan oleh Prof. DR. Komaruddin Hidayat antara lain:

* Tradisi yang baik juga dijaga lewat pendidikan dalam kurikulum sekolah, supaya ada pelajaran tentang local wisdom.
* Dalam jajaran politik, wakil rakyat diberi tambahan kursus atau pendidikan agar mempunyai bekal ilmu dan keterampilan. Sekarang ini banyak wakil rakyat yang masuk ke gedung rakyat dengan modal popularitas, sesudahnya belanja ilmu pengetahuan. Harus ada kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan partai politik untuk meningkatkan mutu para wakil rakyat ini.
* Rakyat jangan mudah terbeli oleh janji-janji, misalnya saat musim kampanye, karena yang rugi adalah rakyat sendiri.
* Tokoh agama menjaga martabat agama, jangan menukarnya dengan jabatan politik.
* Televisi selektif dan harus bisa menangkap kehendak masyarakat. Tokoh yang salah hendaknya diberi sanksi.

Di tengah kemerosotan tersebut, Prof. Komar masih merasakan bahwa masyarakat kita kritis dan masih punya standar. Sehingga di balik kerusakan, rakyat masih punya kesadaran moral. Degradasi moral terjadi, tapi tidak seburuk yang dibayangkan. Misalnya saja, di kalangan politisi masih ada orang-orang yang baik. “Saya percaya, setiap orang masih punya nurani, meski “Watt” nya berbeda-beda,” tegasnya.

Korupsi Berarti Sakit Mental

Sebenarnya manusia senantiasa mencari peluang dan celah untuk selalu menguntungkan dirinya sendiri. Meski begitu, dia tidak akan menjadi korup bila dihadapkan pada fakta bahwa hukum diberlakukan secara tegas atau memiliki perasaan bersalah yang besar. Dengan demikian, dia merasa bahwa tindakan korupsi tidak layak dilakukan.

Korupsi jelas-jelas tindakan yang merugikan orang lain. Dan ini merupakan suatu perbuatan yang sangat tidak sehat. Demikian pula dengan kebiasaan bergosip atau mencemooh. Mencemooh jelas-jelas mencemarkan nama baik seseorang di hadapan orang lain. Pencemaran adalah tindakan yang merugikan.

Padahai tindakan merugikan orang lain maupun diri sendiri, akan membuat pencemaran bagi tubuh. “Badan yang tercemar ‘kan jadi tidak sehat,” kata DR. Monty Satiadarma.

Hal senada juga diutarakan Dr. Suryo Damono, SpKJ. Menurutnya, korupsi bisa dianalogikan dengan lingkungan yang kurang bersih, sehingga mendatangkan penyakit mental. Meski demikian, korupsi berjamaah seperti yang terjadi di Tanah Air belakangan ini bukan termasuk gangguan jiwa.

“Gangguan jiwa mengakibatkan terjadinya disfungsi pada diri seseorang yang membuat dia tak bisa menjalani kehidupannya dengan normal, sehingga perlu dibantu,” tuturnya.

Adapun korupsi, menurut Dr. Suryo, merupakan tindakan kriminal yang terjadi akibat pola kepribadian yang berkembang dengan salah, tetapi bukan gangguan jiwa. Kepribadian yang berkembang salah inilah yang akhirnya akan merugikan.

Bermula dari Rasa Tidak Aman

Gangguan mental emosional berupa kecemasan, stres, depresi, psikosis, dan penyalahgunaan obat termasuk gangguan jiwa. Psikosis adalah gangguan jiwa yang dikenal awam sebagai gila.

“Prevalensi gangguan jiwa jenis ini di Indonesia oleh Litbang Departemen Kesehatan 2007 sekitar 11 persen, psikosis hanya 0,5 persen. Angka di Jakarta terhitung paling tinggi, 14 persen, tidak jauh dari prevalensi gangguan jiwa global, yaitu 15-20 persen,” kata Dr. Suryo Damono, Sp.KJ.

Semua orang bisa mengalami mental distress atau stres, atau ketegangan karena menghadapi situasi tertentu. “Orang bisa mengalami ketegangan saat berhadapan dengan proses adaptasi, ujian, atau berada di tengah kerusuhan,” katanya.

Jika dikelola dengan baik, mental distress ini belum tentu berkembang jadi gangguan jiwa. “Orang berkepribadian mature atau dewasa bisa mengelola stres dengan baik. Saat stres karena macet, misalnya, ia membuat dirinya nyaman dengan menyetel musik yang disukai. Sebaliknya, pada pribadi yang kurang dewasa, stres bisa berkembang jadi kecemasan dan depresi,” ujarnya.

Contoh lain, pribadi kurang dewasa namun perfeksionis yang bekerja di tempat yang serba tidak teratur, disiplin, dan tidak serasi dengan patokan yang sesuai pola kepribadiannya. “Dia bisa jengkel, menyesal, marah, sehingga pada level tertentu bisa depresi, murung, tak bersemangat, putus asa, pesimis, sehingga kehidupan psikososial terganggu. Dia menjadi tidak efektif di tempat kerja, tidak bisa berkonsentrasi. Distress itu menjadi depresi. Orang seperti ini butuh bantuan,” paparnya.

Tidak semua orang yang mengalami distress akan depresi. Ada yang mengalami distress dan memiliki pribadi kurang matang lalu berkembang menjadi kecemasan. Selanjutnya berkembang jadi fobia sosial berupa takut, cemas menghadapi situasi sosial.

Pada survei global di Indonesia, gangguan mental dan emosional ini dialami 20-30 persen pasien yang berobat di puskesmas, dokter praktik swasta, dan layanan kesehatan. “Gangguan mental emosional itu tampak dalam bentuk sakit fisik seperti sakit kepala, sakit perut, dan lain-lain,” katanya.

Tidak Adaptif = Tidak Sehat

Di dunia psikologi seseorang disebut memiliki mental yang sehat jika ada keseimbangan fungsional. Individu yang mentalnya sehat berarti dapat berfungsi secara optimal. Fungsi mental beroperasi secara optimal pada banyak aspek seperti fungsi berpikir, verbal, analisis, menghitung, dan sebagainya.

Bagaimana dengan mental yang tidak sehat? Menurut DR. Monty Satiadarma seseorang disebut memiliki mental yang tidak sehat, antara lain, ketika berada dalam suatu lingkungan masyarakat dengan tata nilai atau norma tertentu tetapi orang tersebut ingin membuat norma sendiri. Ia tidak mampu menyesuaikan diri, dan bersikukuh dengan normanya sendiri.

“Kita melihat ketidaksehatan dari tidak berfungsian kemampuan menyesuaikan diri. Tidak mampu beradaptasi itu berarti termasuk mental yang tidak sehat, mengingat manusia punya kemampuan adaptif yang sangat tinggi,” katanya.

Noordin M. Top termasuk orang dengan kecerdasan tinggi dan cerdik. Namun ia banyak melakukan kesalahan terhadap masyarakat, dengan mencederai nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat dan berjalan dengan ukuran kebenarannya sendiri. Dengan demikian ia tidak bisa dikategorikan bermental sehat, karena tidak mampu beradaptasi dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat.

Namun demikian ketidakmampuan beradaptasi hanya salah satu contoh tentang gangguan pada kesehatan mental. Gangguan mental lainnya dapat disebutkan misalnya gangguan suasana hati, kegelisahan, psikotik, gangguan makan, gangguan perkembangan, gangguan disosiatif, dan sebagainya.

Sumber: Senior


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: