Posted by: Sps | June 14, 2009

Tetap Fit di Masa Pancaroba

Bulan Maret dan April adalah masa peralihan dari musim penghujan ke kemarau. Siang hari cuaca panas terik, menjelang sore turun hujan amat deras, korban pun berjatuhan. Banyak orang sakit flu berat. Bagaimana agar tetap fit di musim pancaroba ini?

Musim pancaroba kali ini adalah peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau. Pada musim ini rata-rata terjadi perubahan yang tidak mengenakkan.

Dalam beberapa hari terakhir ini di Ibu Kota matahari bersinar amat sangat terik, lalu memasuki pukul dua siang, langit mendadak jadi mendung. Tak lama kemudian turunlah hujan luar biasa deras disertai angin kencang.


Kondisi panas dan hujan berselang-seling ini, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jabodetabek, akan terus berlangsung hingga akhir April atau Mei. Udara Jakarta yang terasa panas menyengat di siang hari itu dipengaruhi oleh kondisi lokal, yaitu kelembaban, radiasi matahari, dan penguapan yang cukup tinggi.

Kondisi lokal itu menyebabkan terjadinya awan-awan cumulus yang terus bertambah, sehingga membentuk awan cumulus nimbus. Awan cumulus nimbus ini yang kemudian tiba-tiba mengubah cuaca yang panas terik jadi mendung tebal.

Tak lama sesudahnya terjadilah hujan deras disertai angin kencang. Kadang juga terjadi hujan es di beberapa tempat.

Perubahan cuaca ini sudah makan korban. Tidak sedikit orang yang jatuh sakit gara-gara perubahan cuaca ini. Rata-rata para “korban” itu menderita sakit flu yang lumayan berat.

Alarm tubuh

“Perubahan cuaca yang lumayan ekstrem, dari perubahan suhu panas ke dingin, memang berdampak pada mereka yang rentan terkena penyakit jenis infeksi,” ujar Budi Haryanto, Ph.D, MSc, MSPH, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Meski demikian, menurut peneliti kesehatan lingkungan ini, bukan cuaca yang menurunkan kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi.

“Kita punya karakter kekebalan tubuh sendiri yang terbentuk dari pola makan, kebiasaan olahraga, tidur cukup. Buat orang yang fit, perubahan cuaca tidak akan berpengaruh banyak pada kesehatan karena tubuh sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan cuaca,” katanya.

Secara alami, Tanah Air kita yang terletak di daerah Katulistiwa merupakan tempat yang nyaman untuk hidup mikroorganisme. Daerah Katulistiwa yang hangat sepanjang tahun tentu tidak punya musim dingin ekstrem.

Perubahan suhu dari panas ke dingin secara mendadak itu bikin virus dan bakteri semakin banyak berpesta pora dengan riang di sekitar kita. “Akibatnya, di sekitar kita banyak sekali eksposur agen, berupa virus dan bakteri merugikan. Buat yang rentan ketularan infeksi, hanya ada sedikit eksposur bakteri dan virus saja sudah membuat mereka ketularan,” ujarnya.

Menurut anggota Board of Director Pacific Basin Consortium for Environment Health ini, kita memang tak pernah tahu kapan diri kita rentan tertular penyakit di musim pancaroba.

“Kita ‘kan tidak pernah tahu seberapa persis kebutuhan tubuh akan vitamin hari itu,” sebut DR. Budi. “Sayangnya, karena kesibukan, kita hanya makan apa yang ada di hadapan kita tanpa peduli dengan kandungan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.”

Belum lagi kondisi di tempat kerja yang penuh dengan stres, membuat tubuh jadi kesulitan menyerap sari-sari makanan. Dan justru sari makanan itu digunakan untuk mengatasi stres. Akibatnya, terjadi kerusakan sel di mana-mana, dan tidak bisa diperbaiki karena sari makanan terhambat masuk ke sel. Inilah yang membuat tubuh kita jadi jatuh sakit.

Dia menyebutkan, ada satu pertanda atau alarm dari tubuh yang menyiratkan bahwa tubuh sedang berada di ambang sakit. “Alarm dari tubuh yang harus diwaspadai adalah saat kita merasa tidak enak badan. Pada saat itu, bila dengan cepat diberi asupan vitamin, tubuh bisa pulih dengan cepat. Apalagi jika vitamin dan mineral itu diserap tubuh dengan cepat,” paparnya.

Dongkrak metabolisme

Memang tidak semua orang bisa punya metabolisme bagus, yang dengan cepat menyerap vitamin dan mineral. Olahraga rutin adalah cara yang baik untuk memperbaiki metabolisme tubuh.

Olahraga rutin pada dasarnya bermanfaat melancarkan peredaran darah, terutama di daerah organ tubuh yang dilatih. Peredaran darah yang lancar ini dengan cepat akan mengambil asupan vitamin yang masuk ke tubuh dan mengantarkannya ke sel-sel tubuh tubuh yang rusak.

“Olahraga penting untuk menjaga metabolisme agar tetap bagus, dan tubuh mampu menyerap sari-sari makanan dengan baik,” ujarnya.

Membantu mendongkrak kekebalan tubuh dengan minum suplemen, tetapi tanpa didukung pola makan sehat yang kaya sayur, buah dan olahraga tentu saja tidak cukup. Ditegaskannya, “Minum suplemen vitamin saja tidak cukup kalau tubuh tidak bisa menyerap dengan baik. Vitamin itu bisa terbuang percuma.”

Kebutuhan vitamin C misalnya, tidak sama dari waktu ke waktu karena tergantung kebutuhan.

“Pada saat sehat tubuh hanya butuh 90 mg vitamin C. Perokok perlu 150 mg sehari, sedangkan mereka yang terkena polusi kebutuhannya meningkat jadi 500 mg sehari. Buat yang sakit flu, kebutuhan meningkat hingga 1.000-2.000 mg sehari,” kata Dr. Handy Purnama dari PT Bayer Healthcare Consumer Care.

Agar kesehatan tubuh prima dan tak mudah jatuh sakit, suplemen vitamin yang dibutuhkan tubuh adalah kombinasi dari beberapa vitamin antioksidan. “Antioksidan seperti vitamin A, C, E, zinc, selenium harus bekerja sama karena selesai kerja satu vitamin, pekerjaan antioksidan itu akan diambil alih oleh vitamin lain,” tambah Dr. Handy.

Diare dan DB

Selain flu, diare dan demam berdarah adalah penyakit khas musim pancaroba. Di musim pancaroba, statistik di rumah sakit Indonesia cenderung menunjukkan data penderita diare dan demam berdarah yang cenderung meningkat.

“Penyakit diare itu terjadi karena pencemaran bakteri lewat mulut. Katakanlah makanan dan minuman itu tercemar bakteri. Seharusnya dengan kekebalan tubuh yang sudah terbangun selama ini tidak apa-apa,” kata DR. Budi.

Lain halnya ketika kekebalan tubuh menurun dan tubuh sedang tidak fit. Pencegahan diare bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman.

Menurut pakar konsep rumah hijau ini, “Hati-hati juga dengan air minum. Jangan lupa merebusnya sebelum diminum. Pernah ada penelitian bahwa air minum di rumah mengandung bakteri E.coli. Keberadaan bakteri E.coli ini menunjukkan ada juga bakteri lain yang hidup nyaman dalam air minum tersebut.”

Demam berdarah adalah penyakit menakutkan yang memuncak di musim hujan dan masih terus menghantui di musim pancaroba. Perubahan suhu yang menjadi lebih panas sehubungan dengan pemanasan global, memengaruhi pola migrasi dan perkembangbiakan nyamuk.

“Nyamuk jadi bertelur lebih cepat dan lebih cepat haus darah manusia. Perubahan iklim juga menyebabkan curah hujan lebih tinggi yang menyebabkan terjadinya lebih banyak lagi genangan air, tempat yang nyaman untuk perkembangbiakan nyamuk penyebab demam berdarah dan malaria,” ungkapnya.

Nyamuk demam berdarah tidak akan jadi masalah bila tidak menggigit pasien demam berdarah. “Masalah besar terjadi ketika nyamuk-nyamuk itu menggigit penderita demam berdarah. Penularan terjadi di situ,” katanya.

Karena itu, penanganan demam berdarah seharusnya tidak hanya terkonsentrasi pada pencegahan jentik-jentik nyamuk, genangan air, dan menjaga kebersihan lingkungan. Harusnya juga dilakukari dengan memberantas nyamuknya hingga tuntas.

Jadi, apa yang kita para awam bisa lakukan? Ya, jangan sampai digigit nyamuk.

Meski Tren Turun, Tetap Waspada

Data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan RI menunjukkan penurunan jumlah penderita dan korban meninggal dunia penyakit demam berdarah dengue (DBD) di tahun 2009. “Terjadi penurunan di tahun 2009 dibanding periode yang sama tahun 2008,” ujar Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal P2PL Departemen Kesehatan RI.

Tingkat penurunan itu tercatat cukup menyolok. Bulan Januari 2009 tercatat jumlah penderita 7.193 orang, sedangkan yang meninggal 59 orang. Bulan yang sama tahun 2008 jumlah penderita tercatat 19.261 orang, korban meninggal 202 orang.

Bulan Februari 2009 yang dikenal sebagai puncak musim penghujan tercatat penderita 755 orang, korban meninggal 7 orang. Dibanding tahun sebelumnya, tercatat penderita sebanyak 17.059 orang dan korban meninggal 140 orang.

Tingkat penurunan angka kesakitan, kematian, dan kejadian luar biasa DBD ini disebabkan oleh banyak faktor. “Salah satunya adalah dampak kegiatan program pengendalian DBD tahun-tahun sebelumnya,” ujar Prof. Tjandra kepada GHS lewat surat elektronik.

Menurutnya, penurunan luar biasa itu juga terjadi berkat sejumlah faktor, antara lain imbauan terus-menerus pimpinan/pejabat negara kepada para kepala daerah dan masyarakat dalam pencegahan DBD, pencanangan program jumantik (juru pemantau jentik), dukungan pemerintah pusat dalam penanggulangan terjadinya peningkatan kasus DBD di daerah, serta penerapan metode baru dalam program PSN DBD.

Ia juga menyebut meningkatnya perhatian para kepala daerah, disertai penghargaan Depkes RI kepada daerah yang berhasil melaksanakan program pengendalian DBD khususnya PSN DBD, meningkatnya kemampuan daerah dalam penanggulangan DBD, meningkatnya peran serta mitra kerja, dan meningkatnya kegiatan kampanye KIE.

Meskipun trennya menurun, kita tak mau kecolongan penyakit yang satu ini. Jadi, tak ada salahnya terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit DBD.

Sumber: Senior


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: