Posted by: Sps | June 10, 2009

Wajarkah Mimpi Buruk Si Kecil

“Tolong!!!!” pekikan Aldo yang berumur 4 tahun memecah keheningan malam. Rina, sang Mama, pun bergegas ke kamar si kecil dengan perasaan cemas. Ketika mendapati Aldo tetap tertidur, meskipun gerakannya terlihat gelisah, perasaan Rina agak lega. Perlahan-lahan ia usap punggung anaknya, sehingga tidurnya pun kembali tenang. Meski demikian, kekhawatiran tetap menghantui perasaan ibu dari satu anak ini. Sudah tiga hari berturut-turut Aldo mengigau dalam tidurnya, bahkan kadang-kadang berteriak gelisah, seperti sedang mengalami mimpi buruk. “Wajar tidak yah apa yang dialami anakku ,” begitu pikirnya.

Psikolog anak dari LPTUI, Vera Itabiliana, Psi, mengatakan mimpi buruk sudah bisa dialami anak sejak usia batita. Secara psikologis, ini berkaitan dengan pola pikir anak batita yang mulai berkembang, di mana interaksinya dengan lingkungan pun makin luas. “Paling tidak saya belum pernah bertemu anak yang tidak pernah mimpi buruk,”katanya.


Menurut psikolog anak dari Universitas Atmajaya, Fabiola P. Setiawan, mimpi buruk adalah reaksi takut yang muncul saat tidur, yang biasanya disebabkan mimpi yang menakutkan Menurut data yang ada, hampir semua anak pernah mengalami mimpi yang tidak menyenangkan pada masa kanak-kanak di usia 1-4 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 4 sampai 6 tahun.

Reaksi yang terlihat biasanya mulai usia 3 tahun, yaitu menangis dan masih mudah dihentikan. Menginjak usia 4 setengah hingga 5 tahun, mimpi buruk bisa terjadi lebih sering dan intensitasnya juga semakin tinggi. ”Sakit fisik yang diderita anak juga dapat menjadi pemicu munculnya nightmare,”kata Fabi.

Vera menambahkan, mimpi buruk pada anak memang berkolerasi dengan aktivitas dan emosi yang dialaminya sebelum tidur. Alhasil, pengalamannya tersebut kerap terbawa dalam mimpi. Contoh, ketika anak dimarahi ibu lalu menangis hingga tertidur, akan memicu mimpi buruk datang. Selain itu, anak yang terlalu lelah beraktivitas sebelum tidur juga cenderung mengalami mimpi buruk akibat kondisi fisik yang tegang/kurang rileks. Mimpi buruk pada anak menjadi fenomena yang normal, tetapi dalam batasan tertentu.

Menurut psikiater anak sekaligus penulis buku Sleep The Brazelton Way , Joshua Sparrow MD, ada dua macam mimpi buruk. Pertama adalah nightmare yaitu mimpi yang betul-betul buruk. Biasanya nightmare lebih sering dialami anak 5 tahun ke atas serta orang dewasa, dan umumnya terjadi menjelang pagi, atau saat tidur akan berakhir. Karena kejadian yang dialami dalam mimpi sangat buruk, anak bisa mengingat dan mengalami ketakutan hingga berhari-hari. Akibatnya, ia bisa takut tidur atau takut tidur sendirian karena mimpi buruk itu selalu membayangi.

Kedua night terror. Batita, sebenarnya lebih sering mengalami mimpi jenis ini. Night terror muncul saat anak baru 1 atau 2 jam tidur. Ketika mengalami mimpi, ia bisa tiba-tiba terbangun kaget, berteriak, dan tampak panik. Namun biasanya hal ini akan segera reda kala melihat ibu/ayah ada di sisinya, atau datang dan menenangkannya. Setelah itu, umumnya anak bisa kembali tidur seperti tak terjadi apa-apa. Setelah bangun tidur dia pun akan lupa dengan mimpinya itu.

Penyebab mimpi buruk
Vera mengingatkan, jika seorang anak hampir setiap hari mengalami mimpi buruk, orangtua harus segera menelaah dan menangani sebabnya. Secara garis besar, sudah ditemukan kemungkinan penyebab mimpi buruk pada anak.

Di antaranya:
Aktivitas berlebihan.
Terlalu banyak bermain sehingga membuat anak lelah bisa memicu munculnya mimpi buruk saat tidur malam. Hindari melakukan kegiatan fisik berlebihan sebelum tidur seperti berlari-larian, guling-gulingan, dan loncat-loncatan. Tawarkan aktivitas yang lebih tenang, seperti mendengarkan dongeng atau musik.

Pengalaman traumatis.
Misalnya di perjalanan pulang sekolah anak melihat kecelakaan mobil atau anak mengalami kecelakaan kecil di sekolah seperti jatuh dari ayunan. Maka kejadian traumatis itu bisa tersimpan hingga akhirnya terbawa dalam mimpi. Yang perlu dilakukan orangtua adalah memberikan pendampingan saat anak tidur. Bisa dengan menceritakan hal-hal indah dari pengalamannya terdahulu, atau hal-hal lucu dari kejadian jatuh itu. Sehingga rasa takutnya dapat teralihkan.

Fantasi atau imajinasi.
Bayangan menakutkan bisa muncul bila sebelumnya ia menyaksikan adegan yang terkesan mengerikan. Film horor, umpamanya. Fantasi ini akan terbawa ke alam mimpi si kecil. Jelaskan pada si kecil bahwa itu hanya adegan film, bukan sebenarnya. Oleh karena itu, hindari anak batita dari tontonan yang menyebabkannya berimajinasi berlebihan. Lakukan seleksi tayangan yang akan ditonton. Kemampuan berpikir anak usia batita masih terbatas pada hal-hal yang konkret atau belum dapat memahami hal-hal yang abstrak.

Terlalu kenyang.
Kekenyangan dapat membuat perut terasa tidak nyaman karena lambung terus bekerja untuk mencerna makanan. Jika hal ini terjadi di waktu tidur, ketidaknyamanan dapat memicu munculnya mimpi buruk. Sebaiknya anak tidak makan dengan porsi yang terlalu banyak menjelang tidur. Perut yang tidak lapar juga tidak kekenyangan tentu lebih nyaman dan enak dibawa tidur.
Apa mimpimu, nak?

Vera menjelaskan, menceritakan mimpi buruk pada anak merupakan bentuk katarsis yaitu pencurahan emosi yang dirasakan sehingga tidak membebani dirinya. Ketakutan akan mimpi buruk perlahan berkurang melalui cerita, kecuali jika anak sudah lupa mimpinya. “Di sini peran orangtua untuk memberikan penenangan dan meyakinkannya mimpi bukan nyata,”katanya.

Tantangannya, terang Vera, tidak semua anak mampu menceritakan mimpi buruknya. Terlebih pada anak di bawah lima tahun yang memiliki keterbatasan verbal. Namun bukan jaminan, anak usia di atas lima tahun dengan kemampuan verbal lebih baik, mampu menceritakan mimpinya pada orangtua. Anak seringkali enggan bercerita karena takut diremehkan, ditertawakan, tidak digubris, atau malah dimarahi seusai bercerita. Misalnya, “Tuh kan nonton film horror sih!”.

Agar anak mau menceritakan mimpi buruknya, selain diminta bercerita langsung, dapat pula diawali dengan cerita tentang mimpi buruk yang dialami orangtua. Ceritakan dengan santai, misalnya ketika sarapan pagi. Hindari untuk memaksanya langsung bercerita. Untuk beberapa anak yang sulit mengungkapkan, bisa ’dipancing’ lewat aktivitas menggambar. Tidak perlu khusus memintanya untuk menggambar mimpinya, biarkan anak menggambar dengan bebas. Biasanya dengan sendirinya anak akan menggambar apa yang mengganggu perasaannya, termasuk mimpi buruk tersebut.

Jika anak tetap bersikeras tak ingin cerita, Fabiola mengatakan, orangtua perlu melakukan identifikasi, kenapa mimpi itu bisa terjadi. Caranya, dengan menelusuri atau mengingat-ingat aktivitas apa saja yang dilakukan si kecil sepanjang hari. Apakah ia terlalu banyak makan, terlalu banyak tertawa saat bermain, atau habis menyaksikan film horor, dan lain sebagainya. Jika sudah mengetahui penyebabnya, kita perlu mengondisikan agar ia merasa aman dan nyaman menjelang tidur. ”Ajak anak juga untuk bersama-sama memecahkan masalahnya,”katanya.

Namun, Fabiola mengingatkan, bila penyebab mimpi buruk itu adalah kejadian traumatis, tentu solusinya tak semudah yang lain. Salah satunya, kita perlu melakukan pendampingan saat ia akan berangkat tidur. Tuturkan cerita yang indah-indah sehingga ketakutan anak teralihkan. Jangan menceritakan hal yang seram-seram karena akan membuat anak semakin takut. Namun bila tidak berhasil dalam artian si kecil tetap mengalami mimpi buruk atau malah selalu ingin ditemani saat tidur tak ada salahnya kita berkonsultasi pada ahli yang lebih berpengalaman, seperti psikolog.

Agar anak tidur nyenyak
Fabiola mengatakan, keseringan mimpi buruk tentu tak baik. Si kecil jadi tak cukup tidur dan aktivitasnya pun bisa terganggu. Belum lagi dampak-dampak lainnya, seperti ia jadi sulit makan, sering cemas, takut tidur sendirian, dan lainnya. Untuk itu sebaiknya orangtua memberikan suasana kondusif agar anak tertidur nyenyak.

Cara mencegah anak mimpi buruk,
Hindari pemberikan konsekuensi negatif atau pengalaman yang tidak menyenangkan (ditegur, dimarahi) menjelang anak tidur. Melainkan ciptakan suasana yang menyenangkan dan interaksi yang hangat antar anak dan orangtuanya.

Jangan gunakan hukuman fisik, ancaman, atau aturan yang terlalu ketat dalam mengasuh anak. Misalnya ”Habiskan makanmu ya. Kalau enggak habis nanti kamu diambil bapak-bapak yang bawa gerobak sampah lho”.

Selalu ciptakan suasana yang membuat anak merasa aman dan nyaman dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Tips:
Ada beberapa hal yang perlu dicermati orangtua, bila dalam tidurnya tiba-tiba si kecil menjerit dan menangis karena mimpi buruk. Berikut tips dari psikolog anak dari LPTUI, Vera Itabiliana,Psi, dan psikolog anak dari Universitas Atmajaya, Fabiola P Setiawan untuk menenangkan si kecil dalam menghadapi mimpi buruknya,

Tak perlu ikut-ikutan panik karena hal ini akan membuatnya semakin ketakutan. Bersikaplah tenang sambil menghibur anak dengan perkataan yang menyejukkan. Bila perlu dekap anak sampai ia tenang lagi. Minta ia untuk tidur kembali sambil menegaskan bahwa tak ada yang perlu ditakuti karena kita ada di sampingnya. Reaksi panik hanya akan membuat anak merasa mendapat penguatan, bahwa mimpi buruk adalah sesuatu yang harus ditakuti. Meski tampak belum mengerti, sebenarnya anak bisa merasakannya, ’Aduh, Mama juga takut dengan mimpi yang aku alami!’ “Pada saat anak terbangun karena mimpi buruk, sebaiknya tenangkan anak dengan pelukan, belaian, dan beri minum,” kata Vera.

Ajarkan anak untuk mengatasi mimpi buruknya. Misalnya, anak bermimpi dikejar oleh kupu-kupu yang besar. Ajak anak untuk menggambar kupu-kupu yang ada di mimpinya dan bagaimana menaklukannya, bisa dengan merobek kertas, mencoretnya, dan seterusnya, kemudian bertepuk tangan bersama untuk merayakannya.

Jelaskan bahwa itu hanya mimpi bukan kenyataan. Fabiola mengatakan dukungan orangtua sangat diperlukan saat anak mengalami nightmare, misalnya memeluk dan membelai anak, menyalakan lampu kamar dan menjelaskan bahwa ia mengalami mimpi dan tidak nyata. Katakan bahwa mimpi itu seperti saat anak sedang bermain pura-pura, seperti bermain masak-masakan, robot-robotan dan sebagainya. Jelaskan juga bahwa mimpi buruk tidak akan menyakiti, karena tidak nyata dan setiap anak pasti pernah mengalami mimpi buruk

Tak perlu mengungkit-ungkit. Bila anak sudah lupa dengan mimpi buruknya (umpamanya, dia sudah bisa beraktivitas kembali dengan baik), tak perlu mengungkit-ungkit kembali soal mimpinya itu. Hal itu hanya akan membangkitkan pengalaman buruknya, dan tidak mustahil akan memunculkan rasa takut.

Jangan menambah akumulasi ketakutan anak. Misalnya, anak bermimpi bertemu harimau yang akan menerkam. Jangan malah menambahkan kalau harimau memang hewan buas yang siap menerkam siapa pun yang ada di depannya. Hal ini hanya akan membuatnya semakin takut, bahkan semakin sulit melupakan pengalaman buruknya.
(Mita Zoelandari)

Sumber: Majalah Inspire Kids


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: