Posted by: Sps | June 9, 2009

Gaul Cerdas Untuk Anak

Anak sudah umum dengan celoteh dan gerakannya yang lincah. Orangtua pun mengidamkan anaknya selalu periang dan mudah bergaul. Namun, bagaimana jika Anda menemukan si kecil cenderung murung, diam, dan kurang proaktif?

Dini, ibu dua anak, mengaku pernah mengalami hal itu. Cikal Abian Nur, putra pertamanya yang kini sudah duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar, sempat kesulitan bergaul karena kurang berkomunikasi aktif dan cenderung pendiam.

Ketika masuk pendidikan prasekolah, anak ini lebih sering sibuk sendiri dibandingkan dengan ikut bermain dengan teman-temannya. Tak berbeda, di rumah Cikal pun lebih pendiam dibandingkan dengan Dito, kakak sepupunya yang seumuran.


“Waktu itu, mungkin karena Cikal belum punya adik sehingga tidak memiliki teman bermain. Dia juga tidak sering bermain di luar rumah. Ini membiasakan dia bermain sendiri,” ungkapnya.

Namun, Dini kini bersyukur perilaku Cikal tidak berlanjut menjadi asosial karena anak ini bisa mulai bergaul setelah masuk sekolah dan mempunyai lebih banyak teman.

Farina Arsita, psikolog dari RS Dr.Oen Solo, mengungkapkan anak yang tidak mampu bergaul masuk dalam golongan anak yang susah bersosialisasi. Ciri-ciri yang tampak a.l. anak susah diajak berkomunikasi, cenderung introvert, dan terkesan tidak mandiri.

“Anak seperti ini tidak bisa disalahkan karena semua itu pengaruh pola asuh orangtua pada anak selama masa perkembangan psikologisnya,” ujarnya.

Keadaan ini dimungkinkan terjadi karena orangtua kurang memberikan pendampingan intensif atau tidak mengamati perkembangan psikososial anak. Jika berlanjut, perilaku asosial ini akan berdampak pada kepribadian si anak ketika dewasa.

Menurut Sigmun Freud dalam rangkuman Yupi Supartini dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia, perkembangan psikososial anak balita dibagi menjadi lima tahap.

Pertama, fase oral yang ditandai dengan perilaku anak yang seakan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dari berbagai pengalaman di sekitar mulutnya. Fase ini berlangsung mulai dari masa bayi hingga anak usia setahun.

Kedua, fase anal yang tampak pada anak usia 1-3 tahun. Saat itu anak mulai memperlihatkan sikap egoisentris dan mendapatkan kepuasan dari pengalaman autoerotik.

Ketiga, fase oedipal atau falik yang terjadi pada anak usia 3-6 tahun yang mulai merasakan dorongan seksualitas yang ditunjukkan kepada orang dengan jenis kelamin yang berbeda.

Keempat, fase laten pada anak memasuki usia 7-12 tahun. Ini merupakan masa yang membuat anak berada pada banyak tuntutan sosial, misalnya hubungan berkelompok, pelajaran sekolah, pelajaran moral dan kode etik, serta hubungan dengan dunia dewasa.

Terakhir adalah fase genital yang memosisikan anak pada masalah yang lebih kompleks karena dihadapkan pada hubungan komunikasi dan pergaulan dengan orang dewasa.

Kontribusi positif

Menurut paparan Yupi, masing-masing fase tersebut memberikan kontribusi positif bagi perkembangan psikologi anak. Jika satu fase saja diabaikan oleh orangtua, akan berdampak negatif pada perkembangan psikologis anak.

Perhatian orangtua yang kurang pada fase oral, misalnya, akan berdampak pada kemandirian anak yang kurang. Itu karena fase yang tidak tuntas ini memengaruhi ketidaksiapan anak ke fase selanjutnya.

Arsita menambahkan anak perlu dirangsang untuk tidak sulit bergaul. Orangtua, lanjutnya, dapat menstimulasi perilaku aktif si anak dengan permainan.

Namun, dia mengingatkan berbagai keterampilan atau pendidikan dini yang ditawarkan lembaga pendidikan sekolah atau prasekolah tidak seharusnya mengurangi waktu bermain aktif anak.

“Ada anak balita yang sudah disuruh nonton siaran TV berbahasa Inggris berisi pelajaran mengenal warna atau menghafal kosa kata padahal pada masa ini mereka seharusnya lebih banyak bermain,” ujar Arsita.

Menurut dia, bukan berarti waktu bermain anak tidak dapat diisi dengan materi-materi yang sifatnya belajar, hanya saja materi pelajaran yang disampaikan kepada anak harus lebih banyak permainan agar lebih menyenangkan.

Arsita menuturkan ada dua pola bermain yang penting untuk perkembangan sosial anak, yaitu permainan terstruktur dan tidak terstruktur.

Pola bermain terstruktur dilakukan a.l. memasukkan manik-manik dalam benang, mencocokkan gambar, ular tangga, atau play station. Pola bermain seperti ini akan berguna bagi perkembangan skill mereka terkait dengan perkembangan motorik fisik dan otak anak.

Sementara itu, pola bermain tidak terstruktur berupa latihan berteriak, berlari, melompat, dan permainan-permainan yang cenderung tidak dibatasi oleh aturan-aturan tertentu.

Cara bermain seperti ini penting untuk perkembangan emosi anak yang akan membentuk karakter psikologi sosial mereka.

Sebagai orangtua, menjaga perilaku anak agar jauh dari sikap asosial adalah tugas utama. Bukankah ibarat kertas, ‘warna’ si anak bergantung pada peran orangtua dan lingkungan? (wulandari@bisnis.co.id/aprika.hernanda@bisnis.co.id)

Th. D. Wulandari & Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

Sumber: Bisnis Indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: