Posted by: Sps | June 7, 2009

Cinta Tak Bersyarat Suami Istri

Cinta antara suami-istri mestinya cinta tanpa syarat. Rasa ini perlu dipupuk dengan menyadari kesewenang-wenangan yang ada di dalam diri sendiri terhadap pasangan. Bila masih bersyarat, nilai yang luhur itu menjadi tidak luhur lagi.

Dalam GHS edisi lalu disajikan penjelasan Ki Ageng Suryomentaram mengenai perilaku sewenang-wenang berlandaskan konsep kramadangsa, yaitu kepribadian seseorang yang didominasi pikiran rasional. Kramadangsa senantiasa mendasarkan pada “diri” sebagai patokan dalam memandang berbagai hal.

Tanpa mengenal kesewenang-wenangan di dalam diri kita sendiri dalam hubungan dengan orang lain, kasih sayang tidak dapat lahir. Kelahiran kasih sayang serentak dengan kematian kramadangsa.


Bila kramadangsa mati, rasa memiliki juga mati karena rasa memiliki itu sifat kramadangsa. Selanjutnya, jika rasa memiliki telah hilang, hubungan menjadi merdeka dan memerdekakan.

Jika hubungan merdeka, rasa ingin enak-kekal pun menghilang karena yang ingin enak-kekal ialah kramadangsa. Di sisi lain, kematian kramadangsa justru melahirkan rasa enak-kekal.

Rasa enak-kekal (bahagia) dapat menjadi milik siapa saja. Dalam hubungan perkawinan yang semula diwarnai kesewenang-wenangan, kebahagiaan dapat dipulihkan sepanjang seseorang telah berhasil melahirkan kasih sayang terhadap pasangannya.

Alkisah, seorang ibu yang merasa menderita karena telah 60 tahun menjadi korban kekerasan verbal dan pelecehan emosional oleh suaminya sendiri, akhirnya dapat mengobati perasaannya setelah mencoba memahami mengapa suaminya menjadi sewenang-wenang.

Contoh lain, ibu yang telah 16 tahun merasa sakit hati ditinggal selingkuh sang suami, akhirnya kembali hidup bahagia dengan suaminya. Meski secara ekonomi ia lebih tangguh, ibu tersebut menerima kembali dengan kasih sayang utuh saat suaminya bertobat.

Bagaimana dengan rasa sakit hatinya? Ia berhasil berjuang mengatasinya setelah dapat merasakan rasa susah-senang yang dialami suaminya secara apa adanya, tanpa disertai rasa senang atau benci.

Ikut merasakan senang & susah

Tampaknya begitu mudah ibu-ibu dalam kisah di atas mengatasi penderitaan yang telah dialaminya selama puluhan tahun. Apakah sesederhana itu?

Nyatanya ya, cukup sederhana. Mereka mengatasinya dalam waktu relatif singkat, setelah mengerti apa yang perlu mereka lakukan untuk mengatasi rasa sakit hati, dapat memaafkan, dan bisa mencintai secara apa adanya.

Apa yang perlu dilakukan? Sekali lagi, yang perlu dilakukan hanyalah mencoba merasakan susah-senang yang dialami pasangan: Mengapa suami demikian? Hal-hal apa saja yang membuat suami bertindak sewenang-wenang?

Dalam hal ini termasuk memahami kesulitan-kesulitan dan ketidakbahagiaan yang dialami suami, dan menerima kenyataan bila ternyata dirinya sendiri ikut punya andil atas rasa susah-senang yang dialami pasangan. Langkah memahami seperti ini tidak menggunakan pikiran, melainkan lebih dengan perasaan (olah rasa).

Pada dasarnya, antara suami dan istri sepanjang hidup perlu selalu merasakan kebahagiaan dan kesusahan pasangan dalam berbagai bidang kehidupan. Suryomentaram mengartikan suami-istri sebagai kawan hidup yang saling turut merasakan kebahagiaan dan kemalangan masing-masing dalam segala bidang kehidupan.

Bila saling merasakan kebahagiaan dan kesusahan pasangan ini tidak terjadi, berarti orang tersebut belum memiliki rasa sebagai suami istri, meski telah menikah. Bila rasa suami-istri ini telah lahir, sirnalah kramadangsa. Kematian kramadangsa yang melahirkan tindakan tak mementingkan diri sendiri ini memengaruhi hubungan dengan pasangan, sehingga pada waktunya akan menyebabkan kematian kramadangsa pada pasangannya.

Sayang bahwa kita manusia tidak selalu dapat melahirkan ataupun menjaga rasa suami-istri seperti itu. Akibatnya terjadi penderitaan dalam hubungan perkawinan.

Namun, ketika salah satu pihak berhasil memasuki rasa susah-senang pasangannya (berempati) dalam berbagai bidang kehidupan, kita dapat berharap bahwa akan terjadi harmoni dalam hubungan.

Kematian kramadangsa di salah satu pihak, cepat atau lambat akan mematikan kramadangsa pada pihak lain, sehingga kita dan pasangan dapat berbahagia bersama.

Halangan berdamai

Pertanyaannya, bagaimana bisa begitu mudah berdamai dengan pasangan yang telah tega menyakiti? Memang tak semua orang dapat melakukan dengan mudah.

Seorang ibu lain yang beberapakali menemukan suaminya selingkuh, telah lebih dari setahun belum berhasil memaafkan meski sang suami telah mulai setia.

Ibu ini menempatkan nilal-nilai kesetiaan di tempat yang sangat tinggi dalam sistem nilai yang dianutnya. Ia merasa telah berjuang mati-matian untuk mempertahankan nilai kesetiaan tersebut, sehingga merasa tidak adil dan sulit memahami suami yang mudah selingkuh.

Akibat terlalu berpegang pada rasa keadilan yang membela diri sendiri, ibu dalam kisah ketiga ini terus terombang-ambing dengan perasaannya sendiri yang didera sakit hati dan belas kasih terhadap suami yang telah menunjukkan kesetiaan.

Bagaimanapun, usaha untuk setia yang begitu luhur ini apabila dijadikan ukuran untuk menilai dan menuntut orang lain, berarti yang terjadi bukan lagi keluhuran.

Hal yang secara rasional seolah-olah sesuai dengan asas keadilan ini merupakan manifestasi kramadangsa, yang justru menghasilkan penderitaan pada diri sendiri. Apakah kita memang ingin menderita?

Dalam keadaan demikian mungkin kita menyesal telah menikah dengan pasangan. Namun, bila berganti pasangan atau hidup sendiri apakah dapat dijamin tidak muncul persoalan baru? Persoalan tidak hanya muncul dari orang lain ataupun lingkungan, melainkan sangat sering terjadinya justru dari pola pikir kita sendiri.

Untuk dapat melepaskan diri dari kesulitan seperti ini, yang diperlukan hanyalah memahami motif-motif apa yang ada di balik rasanya sendiri. Selain itu, terus-menerus coba merasakan susah-senang yang dialami suaminya. Dua hal itu dilakukan tanpa memberikan penilaian dan tanpa rasa senang/ benci, tanpa kehendak untuk mengubah.

Mawas diri seperti itu akan menghasilkan perubahan diri dengan sendirinya. Perubahan itu merupakan hasil kematian kramadangsa dan berkembangnya rasa cinta kasih.

Tak Diperlukan Ruang Rahasia

Rasa cinta yang berkembang dari kematian kramadangsa adalah cinta tak bersyarat. Mengenai cinta tak bersyarat ini Suryomentaram menjelaskan demikian:

• Cinta tak bersyarat berarti bagaimanapun keadaan orang yang dicintai, cintanya tetap. Cinta ini memungkinkan orang melihat rasa orang lain, dalam hal ini suami/istrinya. Pada dasarnya rasa orang lain itu sama persis dengan rasa kita sendiri. Dengan cinta ini, orang menganggap orang lain atau suami/istrinya sebagai “bukan kamu”.

• Cinta itu bukan kramadangsa karena kramadangsa tak dapat mencinta. Setelah mencatat rasa cinta, kramadangsa bergerak lagi dan bertindak sewenang-wenang kembali. Bila diketahui lagi, kramadangsa mati lagi, demikian seterusnya. Jadi pembinaan rasa suami-istri dilakukan dengan cara menyadari, mengetahui kesewenang-wenangan diri sendiri terhadap suami/istrinya, pada setiap detik dalam hubungan suami-istri.

• Apabila rasa cinta suami-istri menjalar sampai hal yang terperinci, rahasia-rahasia yang paling rinci pun lenyap. Lenyapnya rahasia membuat hubungan suami-istri menjadi blak-blakan, terus terang. Hubungan terus terang seperti itu diawali dari hal yang pokok sampai pada hal yang kecil-kecil.

• Bila kramadangsa pernah mati, kematian selanjutnya lebih mudah terjadi. Jika kramadangsa sering mati, orang dapat mengamati kepribadian (kekhususan) kramadangsanya sendiri dan kramadangsa suami/istrinya. Dari hal tersebut ia dapat meneliti dengan jelas cacat dan kesukaan diri sendiri maupun suami/istrinya, tanpa landasan suka dan benci, atau keinginan untuk mengubahnya.

Demikianlah, cinta tak bersyarat merupakan hubungan yang merdeka dan memerdekakan. Ini merupakan kualitas yang luhur yang dapat kita capai dengan senantiasa melakukan mawas diri dan mengembangkan empati terhadap pasangan.

Kenyamanan yang diraih dalam cinta tak bersyarat bersama pasangan tidak memerlukan topeng apa pun.

Oleh:
M.M. Nilam Widyarini, Msi
Dosen Psikologi

Sumber: Senior


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: