Posted by: Sps | June 6, 2009

Agar susu tak jadi ‘musuh’

Ada satu kebiasaan pola makan orang Indonesia yang kurang sehat. Hampir 90% masakan Indonesia tidak menggunakan bahan baku berupa susu. Padahal, dilihat dari sisi fungsi dan manfaatnya, susu mengandung banyak gizi baik.

Namun, selama ini kesadaran orang Indonesia mengonsumsi susu masih sangat rendah. Susu masih dianggap sebagai konsumsi anak-anak yang membutuhkan lebih banyak gizi dibandingkan dengan orang dewasa.

Fakta ini dibuktikan dengan pernyataan Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Mediko Legal Departemen Kesehatan Rahmi Untoro yang mengatakan pada 2007 tingkat konsumsi susu di Indonesia hanya sembilan liter per kapita setiap tahun.


“Masih kalah dibandingkan dengan Vietnam yang rata-rata mencapai 10,7 liter dan Malaysia 25 liter per kapita per tahun,” ujar Rahmi Untoro. Sudah diakui jika susu adalah bahan makanan bergizi tinggi yang sangat baik dikonsumsi oleh semua kelompok umur.

Jika susu sangat baik untuk pertumbuhan fisik dan mental anak-anak, untuk kelompok orang dewasa dan lansia susu bermanfaat untuk menjaga kesehatan tulang terutama mencegah terjadinya pengeroposan tulang.

Bukan hanya untuk menjaga kesehatan tulang, susu orang dewasa juga ada yang diformulasikan khusus untuk perkembangan fisik mereka.

Enggan minum susu

Namun, karena kebiasaan makan orang Indonesia yang tidak familiar dengan susu, akibatnya banyak di antara mereka enggan mengonsumsi susu karena enek. Rasa enek saat mengonsumsi susu bisa berakibat fatal karena mereka justru akan muntah setelah susu masuk ke dalam perut. Ini terjadi karena usus sensitif terhadap cairan susu.

Data FAO terbaru menyebutkan hampir 90% orang Asia sensitif terhadap susu. Sensitivitas terhadap susu ini terjadi akibat usus menolak kandungan laktosa dalam susu. Penolakan usus oleh cairan susu inilah yang dalam ilmu kesehatan disebut lactose intolerance.

“Lactose intolerance banyak diderita oleh orang dewasa. Gejalanya muncul jika setelah mengonsumsi susu orang jadi sakit perut, kembung atau flatulensi, dan diare,” ujar Nutrifood Research Center for Diet and Sport Nutrition Manager PT Nutrifood Indonesia, Susana.

Menurut Susana, semua susu termasuk air susu ibu mengandung laktosa. Laktosa adalah karbohidrat alami yang terdapat pada susu. Laktosa tidak dapat diserap dinding usus secara langsung, sehingga harus dipecah dahulu menjadi komponen penyusunnya, yaitu glukosa dan galaktosa.

Proses pemecahan menjadi komponen penyusun glukosa dan galaktosa ini dilakukan oleh enzim laktase. Enzim laktase dihasilkan oleh dinding usus halus. Kemampuan seseorang untuk memecah laktosa tergantung dari aktivitas enzim laktase.

Bayi memiliki aktivitas enzim laktase tertinggi, dan akan terus menurun seiring dengan pertambahan usia. Saat usia semakin dewasa aktivitas enzim laktase ikut turun karena mereka umumnya tidak lagi banyak mengonsumsi produk susu.

Tanpa enzim laktase, laktosa akan tetap tinggal di dalam usus dan menjadikan laktosa sebagai makanan bakteri yang sudah ada di dalam usus.

Bakteri itulah yang kemudian akan menghasilkan gas sehingga orang akan merasakan gejala lactose intolerance seperti sakit perut, kembung atau flatulensi, bahkan diare. Gejala lactose intolerance dapat dideteksi bergantung pada jumlah laktase di dalam tubuh dan jumlah laktosa yang dikonsumsi.

“Orang dengan lactose intolerance umumnya hanya bisa mengonsumsi setengah atau segelas susu dan mulai muncul gejala,” ujar Susana. Mengingat manfat susu yang sangat baik untuk tubuh, baik anak-anak maupun orang dewasa, ada cara mudah mengatasi lactose intolerance.

Bagi mereka yang masih ingin mengonsumsi susu tanpa mengalami gejala lactose intolerance, dapat mengonsumsi susu dan turunan susu yang rendah laktosa, yogurt, susu, atau produk susu yang lebih tinggi mengandung kedelai.

Sebagian besar susu yang dikonsumsi adalah susu sapi yang merupakan sumber protein hewani dan tinggi kandungan laktosa. Dan produk susu dari protein nabati yang terbuat dari kedelai cenderung lebih rendah kandungan laktosa sehingga relatif aman dikonsumsi mereka yang mengalami gejala lactose intolerance.

Namun, ada cara mudah beradaptasi dengan susu hewani. Caranya dengan mengonsumsi produk susu secara perlahan atau membiasakan diri dengan beragam produk turunan susu. Dengan cara ini, semoga susu bukan lagi musuh usus Anda. (wulandari@bisnis.co.id)

Th. D. Wulandari
Bisnis Indonesia

Sumber: Bisnis Indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: