Posted by: Sps | June 5, 2009

“Permennya Lupa Dimakan”

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati
lembah permen lolipop.
Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal.
Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.
Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lollipop
yang berwarni-warni dengan aneka rasa.
Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu
tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan
mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil.
Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut.
Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang
terlihat sangat banyak didepannya.
Bob mengumpulkan sangat banyak permen lollipop yang ia simpan di dalam tas
karungnya.

Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut, tapi sepertinya permen-permen
tersebut tidak pernah habis, maka ia memacu langkahnya supaya bisa
mengambil semua permen yang dilihatnya.


Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.
Dia melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan”.
Itulah batas akhir lembah permen lolipop.

Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar.
Lelaki itu bertanya kepada Bob,
“Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah
permen-permennya lezat?
Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi.
Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat.”

Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi.
Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga.
Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop
yang terasa berat di dalam tas karungnya.
Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab
pertanyaan lelaki itu, “Permennya saya lupa makan!”

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.

“Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi
kamu sudah sangat jauh di depan saya.”

“Kenapa kamu memanggil saya?” Tanya Bob.

“Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya
lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, Indah sekali!” Bib
bercerita panjang lebar kepada Bob.

“Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia
berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan
bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa
bersama.” Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia
lewatkan dari lembah permen lolipop yg sangat indah.
Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu.
Ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati
kelezatannya, karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam
tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal
dan ia bergumam kepada dirinya sendiri,
“Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya
kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan
berbahagia.”
Ia pun berkata dalam hati, “Waktu tidak bisa diputar kembali.”
Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan
kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.

Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.

Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen
tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia?

Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya
mereka menjawab,
“Saya akan bahagia nanti…
nanti pada waktu saya sudah menikah…
nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri…
nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya…
nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya…
nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar… ”

Pemikiran “nanti” itu membuat kita bekerja sangat keras di saat “sekarang”.

Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa
“nanti” bahagia.

Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah
mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa “nanti” bahagia.

Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai
di masa “nanti” bahagia itu.

Ritme hidup yang sangat cepat…

target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah
yang membuat semua target itu…

tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita;

pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan,

pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan
malam bersama keluarga,

pada saat kita duduk berdiam atau pada saat membagikan beras dalam acara
bakti sosial tanggap banjir;

terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran;

memelankan ritme makan kita,

memelankan ritme jalan kita

dan menyadari setiap gerak tubuh kita,

berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak,

bahkan menyadari setiap hembusan nafas

maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah
dan bisa disyukuri.

Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh
lebih damai dan tenang.

Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur
seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.

*****************************************************

Who is wise? ~ He that learns from everyone.

Who is powerful? ~ He that governs his Passions.

Who is rich? ~ He that is content.

Who is that? ~ Nobody.

— Benjamin Franklin–


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: