Posted by: Sps | June 2, 2009

Nutrasetikal, Wajib bagi Penderita Kanker

Sepanjang hidup, tubuh manusia mengalami enam sampai sepuluh kali erupsi sel-sel kanker. Masalah muncul bila sistem kekebalan tubuh terganggu, kekebalan melemah, daya tahan tubuh tak mampu mengendalikan mutasi genetik sel kanker. Pengobatan komplementer dan nutrasetikal adalah pendekatan yang lebih aman.

Setiap orang memiliki sel kanker. Kanker sendiri merupakan penyakit akibat pertumbuhan sel jaringan tubuh yang tak normal.

Menurut Dr. Paulus Wahyudi Halim, Sp.B, bila daya tahan lemah, tubuh kehilangan kemampuan membunuh sel kanker. Akibatnya, tubuh tak dapat mengendalikan pertumbuhan sel kanker. Lewat aliran darah dan getah bening, sel kanker leluasa menyebar ke jaringan sekitar dan organ lain.

Kanker bukan penyakit ringan. Langkah awal pengobatan adalah dengan deteksi secara benar apakah gejala yang timbul, seperti benjolan pada tubuh, benar-benar sel kanker ganas.


Umumnya deteksi ini dilakukan dengan biopsi, sehingga pengobatan dapat dilakukan secara cepat dan tepat, dengan terapi pengobatan konvensional. Contohnya, pembedahan dengan membuang jaringan yang terserang sel-sel ganas, ditambah radioterapi dan kemoterapi untuk mematikan sel kanker.

Ada kalanya terapi di atas masih ditambah terapi hormon, yang bertujuan mengatur keseimbangan hormon. Menurut Dr. Paulus, pengobatan kanker bisa dibarengi dengan terapi komplementer atau terapi pendamping berupa pemberian nutrisi.

“Terapi nutrisi maksudnya dengan memperhatikan ekobiosistem tubuh. Terapi ini dilakukan dengan tidak memunculkan lingkungan dalam tubuh yang mendukung sel kanker untuk hidup dan berkembang biak,” kata pria yang sudah belasan tahun meninggalkan bedah dan beralih sepenuhnya ke komplementer itu.

Nutrasetikal

“Cara efektif melawan kanker adalah jangan memberi sel kanker makanan yang disukainya. Penderita kanker wajib mengonsumsi makanan yang berfungsi sebagai obat atau bersifat nutrasetikal,” ucapnya.

Nutrasetikal adalah bahan yang memberikan manfaat medis, termasuk mencegah atau mengobati penyakit. Nutrasetikal terdiri atas herbal, suplemen, dan minuman nutrasetikal.

Herbal dapat berbentuk bumbu dapur, sayuran, dan buah-buahan. Suplemen berupa vitamin dan mineral. Minuman nutrasetikal meliputi air jahe, kunyit asam, beras kencur, air kacang hijau, susu kedelai, agar-agar, atau gula aren.

Bila ingin mengonsumsi gula, sebaiknya pilih madu, gula aren, atau gula kelapa. Hindari pemanis buatan. Hindari pula susu sapi dan hasil olahannya karena susu sapi membuat tubuh memproduksi mucous, makanan bagi kanker. Sebagai penggantinya, konsumsi susu kedelai tanpa pemanis.

Menurut Dr. Paulus, sel kanker senang dengan lingkungan asam. Daging misalnya, adalah bahan pangan yang bersifat asam. Daging mengandung residu antibiotik, hormon pertumbuhan, dan parasit.

“Penderita kanker sebaiknya diet vegetarian. Hindari konsumsi lemak tinggi dan imbangi dengan makanan berserat tinggi. Jangan pula mengonsumsi makanan dalam kaleng atau yang mengandung bahan pengawet. Hindari konsumsi garam meja yang mengandung pemutih dan bahan kimia, sebaiknya konsumsi garam kasar,” imbuhnya.

Hal lain yang perlu dihindari, tambah konsultan Medical Radiaesthesi ini, adalah makanan yang telah direkayasa, seperti kedelai dan jagung transgenik, serta sayuran yang mengandung residu logam berat, pestisida, atau herbisida. Hindari juga makanan seperti jengkol, emping, melinjo, durian, buah bergetah seperti cempedak, nangka, sawo, duku, langsat, makanan yang dipanaskan dengan microwave, makanan yang dibekukan, dan makanan yang dipanaskan dengan suhu tinggi.

Sebaiknya, setiap hari konsumsi 80 persen sayuran segar, biji-bijian, sereal, dan buah-buahan. Kacang-kacangan juga diperlukan, tetapi yang sudah dimasak. Kacang-kacangan memiliki antinutrisi, tetapi bila telah dimasak sifat negatifnya akan hilang.

“Selain itu, hindari cabai dan santan yang kental,” ujar mantan direktur Rumah Sakit Kusta Sintanala, Tangerang ini.

Soal minuman, Dr. Paulus melarang semua yang mengandung kafein tinggi, seperti kopi, teh, cokelat, alkohol, dan soft drink. Ia menyarankan minum teh hijau karena mengandung zat antikanker.

Peran herbal

Untuk mendapatkan nutrasetikal dalam bentuk tanaman obat, Indonesia tak akan mengalami kesulitan. Negara kita merupakan sumber tanaman obat terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Saat ini, diketahui terdapat sekitar 40 jenis tanaman obat asli Indonesia yang dipercaya mempunyai efek antikanker. Sayang sekali bila tak dimanfaatkan secara optimal. Di samping itu, masih banyak bahan nutrisi herbal yang tumbuh liar di belantara Indonesia.

Keanekaragaman hayati tersebut, dijelaskan oleh Dr. Paulus, bisa menjadi sumber simplisia, yakni bahan alami yang telah dikeringkan dan belum mengalami pengolahan apa pun, selanjutnya digunakan sebagai obat karena berkhasiat penyembuhan. Dalam praktik pengobatan kanker, tanaman obat yang kerap digunakan Dr. Paulus di antaranya beberapa jenis benalu, buah merah, daun dewa, keladi tikus, sambiloto, dan lingzhi.

Lingzhi, katanya, bila dikonsumsi secara teratur dapat merangsang produksi interferon serta interleukin I dan II. “Interferon dan interleukin yang secara alamiah diproduksi tubuh bermanfaat sebagai antikanker. Produksinya kian meningkat jika seseorang rutin mengonsumsi lingzhi,” ungkap dokter lulusan Universita’ Degli Studi Padova, Italia ini.

Secara tidak langsung lingzhi yang mengandung polisakarida 1,3-D-glukan dan beta-1,6-D-glukan juga bersifat antitumor yang kuat. Polisakarida juga dapat memperkuat makrofag, sel-sel kekebalan tubuh yang penting untuk melawan bakteri, virus, dan cendawan. Dalam sebuah riset, Cao QZ membuktikan ekstrak lingzhi bersifat antitumor.

Cao menginduksi sel tumor sarkoma 180 pada mencit. Ia memberikan dosis berbeda untuk setiap kelompok percobaan, yakni 50, 100, dan 200 mg per kilogram bobot tubuh mencit. Persentase penghambatan masing-masing adalah 35,2; 45,2; dan 61,6 persen. Sambiloto juga bisa meracuni sel-sel kanker. Dalam tanaman itu diketahui terdapat senyawa saponin, flavonoid, tannin, andrografolida, deoksi-andrografolida, neo-andrografolida, keton, aldehida, adrografin, panikolina, dan beberapa mineral. Senyawa-senyawa tersebut diyakini mampu membunuh sel-sel kanker.

Meski berbagai herbal bermanfaat sebagai obat, Dr. Paulus mengingatkan agar pemakaiannya harus alami. Bahannya pun harus mempertahankan sifat genetik alias bukan hasil rekayasa genetik.

“Khasiatnya hilang bila telah mengalami iradiasi bahan genetika yang telah diubah dengan cara tidak alami dari sifat tanaman tersebut,” ujarnya. Karena itu, membudidayakannya harus menggunakan prinsip-prinsip pertanian organik seutuhnya, yang bebas logam berat, pestisida, serta herbasida.

Dr. Paulus juga mengingatkan, karena metabolisme tubuh masing-masing orang berbeda, ramuan tanaman obat pada setiap penderita juga tak sama. Keuntungan pasti memanfaatkan tanaman obat adalah tidak bersifat toksik, sehingga lebih aman bagi tubuh penderita kanker.

Sayangnya, saat ini belum ada standar mutu bahan baku dan belum ada yang melakukan double line clinical trial (uji klinis) tentang efek tanaman obat secara menyeluruh.

Alamat Praktek
Jl. Suplir Blok F1/13
Sektor 1.5
Bumi Serpong Damai
Tangerang
Telp. 5380639

Sumber: Senior


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: