Posted by: Sps | June 1, 2009

Terapi NCG untuk Gangguan Stroke

DR.Ir.Hardi SimajayaDarmanto Jatman (65) Juni tahun lalu mengalami stroke, separuh badan kanannya lumpuh. Persis sebulan ia mendekam di rumah sakit. Selanjutnya berbagai upaya pemulihan dilakukan penyair dan profesor bidang Psikologi Universitas Diponegoro Semarang ini di rumah, mulai dari fisioterapi hingga tusuk jarum, Sayangnya, cara itu belum membuahkan kemajuan yang berarti.

Beruntung pada bulan oktober temannya yang seniman kondang asal Yogya, Butet Kertarajasa, meminjamkan alat NCG dari Hardi Simajaya untuk terapi. Darmanto memanfaatkan alat buatan Hardi itu sehari dua kali, tiap pagi dan sore, selama 3 minggu. Hasilnya, ia sudah bisa berjalan dan bicaranya mulai jelas.

Begitu juga dengan Ali Tjahya (51) yang mengalami serangan stroke dua kali (Januari dan Februari 2006). Bicaranya pelo, mulut dan wajah sebelah kiri kaku, jari tangan kiri sukar mengepal dan tidak dapat dikontrol.

Ali harus terus berobat pada dokter ahli saraf untuk memulihkan kondisinya. Dalam masa perawatan dokter, temannya menganjurkannya untuk berobat ke tempat praktik Hardi. Mulailah berobat ketempat Hardi yang menggunakan terapi Neuro Cardio Gym (NCG).

“Puji Tuhan, hari pertama memanfaatkan terapi NCG dengan posisi berdiri 10 menit, duduk 3 menit, telapak tangan digetarkan 2 menit, tangan memegang tongkat digetarkan 3 menit, bicara sudah mulai jelas. Makan dan minum menjadi lebih mudah, otot-otot dan jari tangan kiri terasa mengendur dan lebih lentur. Tidur pun jadi lebih nyenyak,” tutur Ali.

Setelah hari kesepuluh diterapi oleh Hardi, Ali merasa sembuh total. Semua alat geraknya berfungsi normal kembali. Hal positif lainnya, kecanduannya pada rokok dan alkohol sudah hilang.

10 Menit = 1 Jam

NCG, kata DR. Ir. Hardi Simajaya (69), adalah sebuah alat terapi magnetic-vibrator yang menghasilkan dua besaran atau parameter fisik, yakni getaran dan medan magnet yang berfluktuasi. Istilah lainnya, gelombang elektromagnetik.

Kenapa harus dengan getaran dan medan magnet? Menurut dosen fisika FK Universitas Indonesia yang menciptakan NCG 4 tahun lalu itu, getaran mempunyai satu spektrum intensitas yang sangat besar untuk menimbulkan gelombang penyembuhan.

Hardi memanfaatkan gelombang dengan intensitas dan frekuensi yang tetap pada alat ciptaannya untuk menstimulasi organ-organ tubuh. Hasilnya, Anda yang memanfaatkannya merasa lebih nyaman dan rileks.

Kata mantan kepala laboratorium Pusat Reaktor Atom Bandung (Batan) ini, seperti halnya bila kita dipijat pada titik-titik yang pas, kita akan merasa lebih nyaman. Sebaliknya, bila dipijat tidak sesuai kebutuhan, kita akan merasa sakit dan tak nyaman.

Getaran yang tercipta dari NCG ini juga berfungsi untuk memadatkan tulang. Katanya, seperti saat kita memasukkan sekantong gula pasir ke dalam toples. Sebelum isi kantong benar-benar habis, kita menggoyang-goyang toples lalu memasukkan sisa gula pasir ke dalam toples itu lagi hingga benar-benar terisi penuh.

“Nah, getaran dari NCG ini baik juga digunakan untuk mencegah osteoporosis. Dengan alat ini kalsium secara efisien akan naik dan terserap di tulang secara maksimum. Getaran dari NCG membuat otot-otot menjadi rileks. Demikian juga dengan organ-organ tubuh lainnya. Paru-paru, jantung, kelopak mata menjadi lebih berfungsi,” papar Hardi. Sepuluh menit Anda berdiri di atas NCG, kata pensiunan militer berpangkat terakhir kapten ini, sama dengan berjalan kaki selama satu jam. Bisa dipastikan, tubuh akan berkeringat.

“Terapi ini lebih dari sekadar doping. NCG juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Baru sepuluh menit di atas alat ini, badan saya basah kunyup. Begitu turun dari alat ini badan terasa enteng, seperti jalan di atas awan. Saya jadi jarang sekali sakit,” tutur Hasan saat ditemui GHS sedang menjalani terapi NCG di rumah Hardi.

Medan magnet di NCG, kata Hardi, adalah untuk menyesuaikan tubuh manusia, yang juga mengandung medan magnet. Medan magnet secara fluktuatif menarik besi. Besi di dalam tubuh manusia terdapat di dalam darah. Medan magnet yang berasal dari NCG mempercepat aliran darah. “Hal ini sinkron dengan denyut jantung,” imbuh Hardi mantap.

Dengan demikian, alat NCG dapat digunakan untuk menerapi berbagai gangguan kesehatan. Stroke hanya salah satunya.

Dari Insomnia Hingga Gangguan Penglihatan

Dari lembaran kesaksian pasien yang tertulis, bukan hanya kasus stroke yang berhasil disembuhkan dengan terapi NCG. Gangguan kolesterol tinggi, penglihatan mata berkurang, sakit pinggang, insomnia, sinusitis, sakit punggung bawah (low back pain), dan migrain adalah sebagian keluhan yang sering ditangani DR. Ir. Hardi Simajaya.

Terapi NCG diketahui juga bisa merangsang kelenjar pankreas untuk bekerja optimal dan membakar karbohidrat di dalam darah. Karena itu, ia mengajak penderita diabetes untuk mencoba terapi ini, “Berbagai cedera, termasuk cedera sehabis berolahraga, juga dapat dibantu pemulihannya dengan NCG asal tidak terjadi patah tulang atau putus serabut-serabut otot,” kata alumnus Japan Atomic Energy Research Institute Tokaimura, Jepang dan Saclay Nuclear Research Center, Saclay, Perancis ini.

Mau berobat dengannya? Anda tidak boleh langsung naik ke atas alat NCG. Hardi akan melakukan serangkaian pencatatan, mulai dari data diri, keluhan dan penyakit yang pernah diderita, juga mengukur tekanan darah dan berat badan.

Kadang ia minta pasiennya untuk membawa hasil rekam medis dari dokter yang merawat. Setelah itu, pasien baru diperkenankan untuk mencoba memakai alat NCG yang kelihatarinya seperti sepeda tanpa roda itu.

Untuk menghasilkan pengobatan yang sempurna, alumnus ITB dan Universitas Padjajaran Bandung tahun 1965 ini akan menyetel getaran yang dibutuhkan dan waktu yang diperlukan. Setelah itu ia akan mengajarkan teknik gerakan saat berada di atas alat NCG, seperti badan tegak lurus, bokong doyong ke belakang, kepala digerakkan ke kiri dan kanan, atau telapak kaki dimiringkan.

Di atas NCG, Anda juga diminta untuk menarik napas dan membuangnya perlahan. Tujuannya untuk membersihkan paru-paru. Secara khusus kepada pasien gangguan stroke, ia menganjurkan untuk menjalani terapi setiap pagi dan sore, masing-masing selama 10 menit. Biasanya penderita stroke akan kembali pulih setelah menjalani lebih dari 10 kali pertemuan.

Saat, praktik di rumah, Hardi tak pernah meminta imbalan atas karyanya. “Semua no pay. Bagi saya, bisa berbagi kasih merupakan hiburan tersendiri dalam hidup ini. Hati pun selalu happy,” kata pria yang banyak mendapat pesanan atas karyanya itu.

Nah, untuk yang satu ini, Anda yang mau pesan tentunya harus pay alias bayar, bukan? Silakan mencoba.

Sumber: Senior


Responses

  1. Hi,
    titip informasi ya..

    jika ada yang mau menyewa alat-alat medis untuk homecare (perawatan dirumah) seperti tempat tidur rumah sakit, oksigen,kursi roda, suction pump,nebuliser dll dapat melihat blog kami di

    http://www.griyakami.wordpress.com
    atau
    http://homecare.griyakami.com

    terimakasih banyak ya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: