Posted by: Sps | May 30, 2009

Duku, Primadona bagi Kesehatan

Duku merupakan buah lokal yang jadi primadona bagi kesehatan. Buahnya diyakini mampu mencegah kanker kolon, bijinya menyembuhkan diare dan demam, sedangkan kulit kayunya untuk mengobati malaria.

Saat musim duku, mudah kita jumpai tempat penjualan duku di lapak-lapak pasar maupun gerobak dorong di pinggir jalan. Semua duku di tempat tersebut dijual sebagai “duku palembang”.

Nama duku palembang memang sering “dicatut” oleh penjual buah untuk melariskan dagangannya. Supaya Anda tidak mudah tertipu, ada baiknya untuk mengenal lebih dalam tentang seluk-beluk duku.

Asli Indonesia

Duku (Lansium domesticum Corr) berasal dari daerah barat Asia Tenggara, yaitu semenanjung Thailand sebelah barat hingga Kalimantan bagian timur. Berawal dari daerah ini, buah duku dikatakan berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Dari ketiga negara tersebut selanjutnya duku menyebar ke Filipina, Vietnam, Myanmar, dan India.

Tanaman ini termasuk klasifikasi famili Meliaceae. Buahnya dikenal dengan berbagai nama di berbagai daerah, seperti langsat (Malaysia); lansones (Filipina); lansa, langseh, langsep, lanzon, lanzone, lansone, atau longkong (Thailand); lon bon dan bon bon (Vietnam); serta duku dan kokosan (Indonesia). Negara penghasil duku terbanyak di dunia adalah Filipina, Malaysia, dan Indonesia.

Buah tropis ini memang pada mulanya hanya berkembang di daerah Asia beriklim tropis. Kemudian buah ini berkembang menjadi primadona buah tropis, sehingga saat ini mulai banyak dilirik di pasar internasional. Kini buah duku dengan mudah dapat ditemukan di Hawaii dan Suriname.

Jenis condet langka

Duku merupakan tanaman musiman, artinya tidak berbuah sepanjang tahun. Tidak hanya sebutan di berbagai daerah yang beragam, varietas duku juga beragam, dari yang berbuah sangat besar hingga sangat kecil, dari yang berbiji besar hingga yang tanpa biji.

Varietas yang termasuk unggul di Indonesia adalah duku komering (duku palembang), duku matesih, duku woro, duku condet, dan langsat punggur di Kalimantan Barat (20 km arah barat daya dari Pontianak).

Sentra produksi duku di Indonesia antara lain adalah: Palembang, Pasar Minggu (Condet), Karanganyar, dan Kulonprogo (Nanggulan). Varietas duku dari Palembang (Ogan Komering) sangat populer karena hampir tidak berbiji dan rasanya manis sekali.

Buah duku condet merupakan komoditas yang berasal dari kawasan Condet, Jakarta. Buah ini termasuk jenis duku langka yang dilindungi. Salah satu faktor yang membuat jenis ini menjadi langka adalah semakin berkurangnya pohon duku di Condet, Jakarta Timur. Sebagian besar kebun duku telah berubah menjadi kawasan perumahan.

Duku condet buahnya berbentuk bulat agak lonjong, memiliki kulit tipis berwarna kuning kecokelatan, serta daging buah berwarna putih jernih dan manis. Kandungan daging buah pada duku condet sekitar 52-64 persen, dengan ukuran biji relatif kecil, berwarna hijau, serta pahit rasanya.

Asal duku matesih adalah daerah Karanganyar, Jawa Tengah. Buah duku matesih bulat dan agak besar dengan lingkar buah sekitar 10 hingga 11,5 cm.

Buah yang mengandung 5-6 siung daging ini diselimuti kulit buah yang tipis, tak bergetah, dan umumnya berbintik-bintik. Daging buahnya berwarna putih, bersifat kenyal, serta rasanya manis menyegarkan karena mengandung gula dan air yang cukup banyak. Pohon duku matesih dewasa dapat menghasilkan 300-400 kg per pohon dalam satu musim panen.

Cara Memilih Buah yang Baik

Tanaman duku merupakan tanaman musiman dengan siklus berbuah setahun sekali. Bunganya muncul pada awal musim hujan, sekitar bulan September atau Oktober. Enam bulan kemudian buah terlihat bergelantungan di ranting dahan dan diperkirakan siap panen di bulan Februari hingga Maret.

Buah duku dapat dipanen setelah tua benar (matang pohon), yaitu setelah berumur enam bulan sejak bunga mekar. Buah duku yang masih mentah berwarna hijau, bergetah, dan rasanya sangat asam.

Kematangan buah ini ditandai oleh warna kulit yang berubah kekuningan, kulit menipis, getah menjadi sedikit, tekstur agak lunak, dan daging buah yang berasa manis. Hasil panen dapat mencapai 100-600 kg per pohon per musim. Buah duku tersusun dalam bentuk dompolan-dompolan.

Kriteria buah duku yang bermutu tinggi adalah: (1) ukuran buah yang relatif besar dan seragam, (2) kulit tipis, bersih, berwarna kekuningan, tidak bergetah, (3) tidak berbiji (seedless), (4) daging buah berwarna bening, rasanya manis, dan kandungan airnya banyak.

Sebaiknya hindari membeli duku yang memiliki ciri-ciri: (1) cacat, luka, dan banyak bernoda atau berbintik bekas luka, (2) warna kulit buah dan tangkai masih hijau, (3) mengandung bercak-bercak cokelat atau kelabu, (4) tekstur sangat keras dan banyak mengandung getah.

Buah duku mudah sekali rusak, kulitnya akan berubah warna menjadi cokelat dengan cepat, hanya sekitar 4 hingga 5 hari setelah panen. Untuk mengatasi hal tersebut, duku sebaiknya dicelupkan ke dalam larutan benomyl 4 g/liter air, kemudian disimpan di ruang berpendingin pada suhu 15 derajat Celsius dan kelembaban udara sekitar 85 hingga 90 persen.

Dengan perlakuan dan kondisi penyimpanan tersebut, buah duku dapat bertahan hingga 2 minggu.

Cegah Kanker, Diare, dan Malaria

Buah duku mengandung daging buah sebanyak 60 persen, sisanya berupa kulit dan biji. Daging buah duku kaya akan gula sukrosa, fruktosa, dan glukosa, sehingga berasa manis. Buah duku mengandung energi dan mineral (khususnya zat besi) yang lebih tinggi dibandingkan dengan buah apel atau jeruk manis.

Kandungan lain yang juga cukup dominan dalam buah ini adalah serat pangan (dietary fiber). Buah Lansium domesticum ini juga mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan polifenol.

Buah ini bermanfaat untuk kelancaran sistem pencernaan, pencegahan kanker kolon, serta mengurangi dampak dari kanker kolon akibat radikal bebas. Selain daging buah yang segar menyehatkan, bagian kulit buah dan bijinya juga bermarifaat untuk bahan baku obat antidiare dan menurunkan demam.

Kulit kayunya juga sering digunakan untuk mengobati gigitan serangga berbisa dan obat disentri. Sebagian. orang juga percaya, benalu pohon duku dapat menghambat dan membasmi sel-sel kanker.

Bagian lain yang bermanfaat adalah kulit batang kayu yang memiliki rasa sepat, yaitu untuk menyembuhkan disentri dan malaria. Tepung kulit kayunya digunakan juga untuk tapal penyembuh bekas gigitan kalajengking.

Kulit buah dan bijinya sering ditumbuk halus dan dimanfaatkan sebagai obat antidiare, obat cacing, dan obat penyembuh demam. Kandungan oleoresin yang cukup tinggi pada bagian kulit dan biji tersebut sangat berperan sebagai antidiare.

Di Filipina, kulit buah duku biasa dibakar untuk mengusir nyamuk.

Sulit Dibedakan dengan Langsat

Sekilas buah duku dan langsat seringkali menimbulkan kerancuan. Kedua buah ini berasal dari famili yang sama, yaitu Meliaceae, meski sesungguhnya merupakan dua varietas yang berbeda. Lansium domesticum var. pubescens adalah jenis buah langsat, sedangkan Lansium domesticum var. domesticum merupakan buah duku.

Keduanya memiliki beberapa kesamaan pada tampilan luarnya. Buahnya bergerombol dalam satu tangkai dengan kulit buah yang tipis. Meski demikian, keduanya memiliki sedikit perbedaan, yakni duku berwarna cokelat keemasan, sedangkan langsat berwarna lebih muda.

Langsat yang berwarna cokelat menunjukkan buah langsat yang sudah terlampau matang (over ripe). Kulit langsat mengandung lapisan yang bersifat lengket dan bergetah, walaupun getahnya tidak berbahaya.

Buah duku tidak mengeluarkan getah, sehingga dinilai berkualitas lebih baik. Sayangnya, duku memiliki aroma yang jauh lebih lemah dibandingkan dengan langsat.

Ciri lainnya adalah buah langsat memiliki tangkai yang lebih kecil dan berbulu. Duku dan langsat memiliki keunikan masing-masing, sehingga keduanya menjadi komoditas buah tropis yang potensial di pasar internasional.

Buah duku dan langsat terdapat di daerah Asia Tenggara bagian barat, meski tidak selalu terdapat dalam jumlah banyak. Di Filipina misalnya, kita sangat jarang menemukan duku, tetapi mudah sekali mendapatkan langsat yang lezat.

Oleh:
Prof. DR. Made Astawan
Ahli Teknologi Pangan dan Gizi

Sumber: Senior


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: