Posted by: Sps | May 27, 2009

Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun yakni suatu reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap jaringan tubuh, karena terjadinya gangguan pada fungsi normal normal sistem imun yang menyebabkan sistem imun itu sendiri menyerang jaringat sehat.

Penyakit RA yang biasanya disebut juga oleh masyarakat sebagai penyakit rematik ini, merupakan salah satu bentuk dari penyakit sendi. Ada lebih dari 100 jenis rematik, dimana satu sama lain memiliki gejala dan tanda yang hampir mirip. Sehingga, dokter pun masih belum bisa memastikan 100% jenis penyakit rematik apa yang diderita oleh pasien, karena kemiripannya tersebut.

Di lingkup masyarakat sendiri terdapat mitos yang menganggap semua penyakit rematik disebabkan oleh Artritis Gout – yakni nama dari penyakit asam urat. Padahal masing-masing dari penyakit rematik memiliki spesifikasi yang berbeda-beda.

Menurut Prof. DR. Dr. Harry Isbagio SpPD-KR, K-GER dalam paparannya di sebuah media edukasi yang diadakan oleh Wyeth pada Rabu (20/5) lalu , bahwa prevalansi RA sendiri di Indonesia, sebenarnya tidak terlalu tinggi. Akan tetapi penyakit ini sangat progresif, dimana jika tidak mendapatkan pengobatan yang benar, dalam waktu singkat yaitu sekitar 2 tahun akan menimbulkan cacat sendi permanen.


Bahkan penyakit RA yang juga disertai dengan penyakit lainnya, dapat menyebabkan kematian dini. Karena pada kasus keparahan yang bersifat lanjut atau yang sudah kronis dapat menyerang organ-organ penitng, seperti mata, paru-paru dan pembuluh darah.

Ciri-ciri jika seseorang terkena RA yaitu terdapat tanda kemerahan simetris, kaku, nyeri dan terbatasnya gerakan pada sendi tangan, kaki, siku dan leher. Peradangan pada sendi, merupakan ciri khas dari RA, yang dapat berakibat pada kerusakan dan kehilangan fungsi sendi yang sifatnya permanen.

Sampai saat ini, belum diketahui penyebab pasti dari penyakit RA, namun demikian terdapat beberapa faktor yang diduga dapat memicu seseorang terkena RA, diantaranya infeksi kuman dan faktor genetik.

Meskipun penyakit ini tidak dapat sembuh total, namun tindakan medis bisa tempuh oleh penderita RA, dimana hal itu berguna untuk membantu mengurangi peradangan dan nyeri sendi, memaksimalkan fungsi sendi dan mencegah pemburukan kerusakan dan kelainan sendi.

Tata laksana pengobatan RA secara dini dapat menekan kerusakan pada sendi. Salah satu terobosan pengobatan yang dilakukan yakni dengan menggunakan Biologic agent seperti Etanercept yaitu obat biologis yang mampu menangkap atau menghambat suatu protein dalam tubuh yang dinamakan Tumor Necrosis Factor Alpha atau TNF Alpha.

“Walaupun RA tidak dapat disembuhkan, tetapi penyakit ini dapat dikontrol sampai tercapainya tingkat remisi atau sembuh sementara, dimana gejala penyakit – terutama kerusakan sendi – bisa dihentikan,” ungkap Prof. Harry.
Lebih lanjut Prof. Harry juga mengungkapkan jika pengonsumsian agen biologik dilakukan secara rutin dan tidak putus-putus, maka diharapkan dapat mendorong tercapainya remisi jangka panjang pada penderita RA. (Dee).

Sumber: hanyawanita.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: