Posted by: Sps | May 27, 2009

Makan Bukan Cuma Asal Kenyang

Aktivitas dan rutinitas kerja, baik di luar maupun dalam ruangan, seringkali membuat pekerja mengalami kesulitan memilih makanan. “Bisa sempat makan saja sudah syukur,” begitu komentar sebagian pekerja. Parahnya, ketika sempat makan pun prinsipnya asal kenyang. Demikian susahkah mendapatkan makanan yang sehat dengan gizi seimbang?

Sejak pagi Rudi begitu asyik di depan komputer. Seperti pekerja kantoran lainnya, waktu di kantor memang terasa berlari cepat, padahal setumpuk tugas masih menanti disentuh. Saat waktu istirahat siang tiba, saat beberapa rekan kerjanya mulai bergerak keluar untuk mencari makan siang, Rudi tetap asyik di depan komputer.

Hingga seorang office boy mendekatinya. “Mau pesan makan siang apa, Pak?” tanyanya. Pertanyaan singkat itu sontak membuatnya tersadar jika jam makan siang telah tiba. Ia pun sejenak berpikir seperti orang kebingungan. “Makan apa ya?” gumannya.


Lantas matanya melihat deretan pesanan pada secarik kertas yang dipegang OB itu. Namun, seperti biasa, ide untuk menentukan menu tak kunjung muncul.

Dia memang seringkali bingung ketika jadwal makan siang tiba. Sebenarnya bukan karena tidak lapar, tetapi sulit menentukan jenis makanannya. “Sebenarnya saya nggak neko-neko, yang penting enak dan bersih,” katanya.

Beda lagi dengan Leony. Pegawai suatu perusahaan asing di bidang jasa keuangan ini mengaku sulit menemukan tempat makan yang bersih, meski berkantor di kawasan Semanggi yang lumayan elit. “Ada sih restoran Jepang dan Korea, tetapi masak sih tiap hari makan di situ? Bisa-bisa gaji habis buat makan,” ujarnya.

Karena itu, lajang berusia kepala tiga ini seringkali menikmati makan siang di warung kaki lima yang bertebaran di gang belakang kantornya. “Karena nggak ada yang pas dengan selera, yang penting kenyang. Daripada tidak makan,” tuturnya.

Gizi seadanya

Kebingunan itu mungkin juga dialami sebagian besar orang Jakarta, terutama mereka yang hampir sebagian waktunya dihabiskan untuk urusan pekerjaan Sibuk, malas keluar kantor, dan tak mendapatkan pilihan menu makan yang sesuai, membuat orang kota sulit memenuhi kebutuhan gizi bagi tubuhnya. Prinsip “asal kenyang” pun makin banyak penganutnya. Apakah itu termasuk Anda?

Diungkapkan Dr. Pauline Endang, konsultan Gizi Medis dari RS Fatmawati, Jakarta, usia produktif kisaran 20-30-an yang aktif di kantor memang agak kesulitan untuk mengatur gizi karena kegiatan mereka yang terlalu padat. Sebagai gambaran, mereka yang hidup di kota besar seperti Jakarta, rata-rata berangkat dari rumah pukul 06.00 dan pulang pukul 21.00.

Hidup mereka sebagian besar habis di kantor dan di jalan alias “tua di jalan”. Kondisi seperti itu menyebabkan mereka kesulitan mengatur pola makan yang benar dengan gizi seimbang dan beragam. Akibatnya, ketika mereka harus makan, yang terjadi adalah pemenuhan gizi seadanya dan asal kenyang.

Dr. Endang menyatakan, dari pola makan yang tidak ideal itu akhirnya orang lebih banyak mengonsumsi jenis makanan yang tidak bermanfaat, seperti gorengan, makanan yang mengandung santan, atau jenis makanan yang kurang memenuhi syarat kebersihan. Pilihan seringkali mudah jatuh ke makanan siap saji maupun makanan yang tidak diolah dengan penambah rasa, pewarna pengawet, dan zat aditif lain yang jika dikonsumsi dalam waktu lama akan membahayakann kesehatan.

Diperkirakan, hampir 60 persen dari populasi pekerja kantoran di Jakarta menikmati makan siang atau makan kudapan dari jajanan di warung kaki lima. Memang warung kaki lima tidak semuanya jorok atau tidak mengindahkan kebersihan dan kesehatan. Namun, tentu lebih berisiko terkontaminasi berbagai kuman penyebab penyakit dibandingkan jika membawa bekal dari rumah.

Mesti selektif

Sebenarnya tidak susah untuk mendapatkan makanan sehat, bersih, murah, gizi seimbang dan beragam. Salah satu caranya, yakni membawa bekal makanan dari rumah. Makanan yang dibuat sendiri di rumah umumnya lebih berkualitas bahannya dan kebersihan saat mengolah juga lebih terjamin. Menunya pun bisa bervariasi dan lengkap, terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dari sayuran maupun buahbuahan. Dan yang jelas bisa sangat sesuai dengan selera.

Kalaupun cara itu sama sekali tidak bisa dilakukan, bukan berarti pemenuhan menu makan dengan gizi seimbang lantas boleh terabaikan. Menurut Dr. Endang, pemenuhan gizi tersebut masih bisa diusahakan, toh kita bisa bersikap selektif bila harus jajan di luar.

Contohnya, usahakan memilih tempat makan yang bersih, menu yang beragam berupa sayuran hijau dan lauk yang berprotein. Sesekali boleh saja memilih sayur berkuah santan, atau lauk yang digoreng, asalkan tidak sering. Pilihan minum, utamakan air putih atau jus buah tanpa gula.

“Perbanyak saja menu sayuran dan jangan lupa makan buah, bisa dalam bentuk buah segar maupun yang dijus,” katanya.

Jika Terpaksa Jajan

Ada beberapa hal yang layak Anda perhatikan jika tidak mungkin membawa bekal dari rumah, sehingga harus jajan.

1. Lakukan survei kecil-kecilan terhadap warung atau restoran di sekitar tempat kerja Anda. Lewat cara ini Anda tahu tempat jajan yang bersih, makanannya sehat, dan lumayan lezat. Jika Anda tidak sempat keluar kantor, saat meminta bantuan OB (office boy), bisa menunjuk secara tepat warung mana yang harus dituju.

2. Jika tidak sempat melakukan survei, cobalah meminta rekomendasi teman.

3. Jika sudah mendapatkan tempat yang ideal, langkah berikutnya adalah memilih jenis menu. Meski selera kadang tak dapat ditahan, jika Anda terbiasa memilih dan selektif, rasanya tidak akan rugi.

4. Pilih jenis makanan yang banyak mengandung serat. Sebaliknya, hindari jenis lauk atau makanan yang digoreng karena biasanva menggunakan minyak yang telah berkali-kali dipakai dan bisa berubah menjadi lemak trans yang membahavakan kesehatan. Usaha ini setidaknya dapat meminimalisasi efek buruk makanan dan memberikan Anda asupan yang lebih ideal dan seimbang dari nilai gizi.

5. Percayalah, siapa pun, termasuk seorang profesional, harus mengonsumsi makanan yang jumlahnya mencukupi kebutuhan sehari-hari, sesuai kegiatan masing-masing. Artinya, bukan berarti harus makan sedikit atau sebaliknya asal kenyang.

6. Mulailah mempertimbangkan jenis makanan yang dikonsumsi. Kalau dikaitkan dengan tren penyakit sekarang, lauk pauk yang paling sehat adalah tempe, tahu, dan ikan. Usahakan tidak terlalu sering mengonsumsi lauk yang digoreng.

7. Dalam soal minum, usahakan mengganti teh manis dengan air putih. Hindari memilih minuman yang terlalu banyak es. Bukan karena dingin, melainkan karena es biasanya disertai gula atau sirop atau soda. Selain membuat perut terasa berat, kebiasaan menutup makan dengan minuman manis akan menambah kalori yang memicu kegemukan.

8. Pesanlah jus unnik melengkapi kebutuhan nutrisi Anda. Bila jus buah kombinasi lebih baik, yang lebih penting ialah, jangan menambahkan gula atau sirop pada jus yang Anda pesan.

9. Untuk menghindari rasa bosan, tidak ada salahnya memilih tempat baru. Tentu saja dengan tetap memperhatikan nilai kebersihan tempat serta gizi seimbang.

10. Usahakan mengganti menu makan yang Anda beli setiap hari, supaya Anda dapat memperoleh variasi nutrisi, baik jenis sayur, lauk, maupun buah-buahan yang dibeli. Tinggalkan kebiasaan makan monotoni alias tiap hari itu-itu melulu.

Nasi Padang vs Rantangan

Menu nasi padang adalah pilihan paling sering saat kita makan siang di kantor, sedangkan rantang mewakili bekal masakan rumah. Marl kita timbang kadar gizi keduanya.

Nasi:
Sama-sama nasi putih sebagai sumber karbohidrat. Bedanya, nasi dari rumah tidak “dicuci kelewat bersih” sampai menghilangkan zat gizi dari bekatul pada beras. Selain itu, kalau membawa bekal dari rumah, Anda juga bisa menggantinya dengan beras merah yang lebih berserat tinggi.

Kuah olahan:
Kuah pada masakan padang cenderung mengandung lemak dan kolesterol tinggi karena merupakan kuah dari masakan daging-dagingan. Sebaliknya, kuah dari masakan rantangan rumahan biasanya bening, yang merupakan kuah sayuran.

Sayur-sayuran:
Sayuran nasi padang umumnya hanya daun singkong rebus, kacang panjang, atau nangka muda. Bandingkan dengan sayur dari rumah yang lebih beragam, dari sayuran hijau, putih, kuning, kacang-kacangan, dan sebagainya. Anda bisa makan mulai dari rebusan bayam, wortel, sawi, buncis, kailan, sampai sayur lodeh, aneka tumis, sup, dan cah.

Lauk pauk:
Nasi padang menyajikan lauk serba daging dan bersantan kental. Menu rumah biasanya berupa tahu, tempe, ikan, telur, atau daging yang dimasak tanpa minyak dan santan.

Buah:
Buah di restoran padang biasanya hanya pisang atau jeruk. Jika Anda bawa bekal rantangan, buah bisa sangat beragam, tergantung isi kulkas di rumah, termasuk puding atau salad buah.

Minum:
Hampir tidak ada bedanya, kita bisa memilih air putih.

Bekal Sehat Berselera

Membawa bekal makan siang dari rumah tentu akan lebih sehat dan lebih murah. Namun, sebagian orang menganggapnya repot dan mudah mengundang rasa bosan.

Beberapa tip ini semoga dapat memotivasi Anda untuk membawa bekal yang sehat dan berselera.

• Supaya tidak membosankan, Anda dan pasangan bisa menyusun variasi makanan, misalnya untuk satu minggu atau bahkan satu bulan. Beragam buku tentang kuliner atau resep di internet bisa menjadi referensi. Rasa bosan itu manusiawi, jadi bukan dosa jika sesekali satu atau dua minggu sekali Anda absen membawa bekal dan jajan di kantin dekat kantor. Jangan lupa, pilih yang relatif paling bersih dan sehat.

• Pilih makanan yang Anda sukai sebagai bekal, tanpa melupakan nilai gizinya. Selain karbohidrat (nasi atau mi), lengkapi bekal Anda dengan sumber protein, lemak sehat, dan serat dari sayuran dan buah. Lauk yang direbus atau dikukus memang lebih sehat, tetapi sesekali membawa lauk yang digoreng tak masalah. Syaratnya, dalam satu kali makan, makanan yang digoreng sebaiknya hanya satu jenis.

• Bertukar lauk. Jika kebetulan teman sekantor ada yang membawa bekal, boleh juga saling bertukar sayur atau lauk. Makan bersama ini akan memberikan suasana berbeda, dan makan pun jadi lebih nikmat.

• Selain menu utama, tak ada salahnva membawa minuman dan camilan favorit. Saat sore hari terasa lapar, Anda tak tergoda untuk beli gorengan misalnya.

• Membawa botol minum juga penting, tak hanya bisa digunakan selama di kantor, tetapi juga berguna selama perjalanan rumah-kantor atau sebaliknya. Cara ini lebih sehat, mendorong Anda untuk memenuhi tubuh akan kebutuhan cairan, dan jelas lebih efisien.

• Untuk tempat makanan, pilih wadah dari plastik berkualitas baik atau stainless steel antikarat. Meski relatif lebih mahal, pilihan itu sebanding dengan jaminan kesehatan yang Anda akan dapatkan. Boleh juga membawa peralatan makan sendiri seperti sendok, garpu, piring, dan gelas yang bisa disimpan di laci meja kerja.

Meski terkesan eksklusif, langkah ini ada baiknya. Paling tidak Anda tidak perlu berebut dengan rekan sekantor, bila jumlah alat makan yang disediakan kantor terbatas.

Sumber: Senior


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: