Posted by: Sps | May 27, 2009

Lingkar Leher Indikator Gangguan Jantung

Leher seseorang juga bisa memberi petunjuk terhadap risiko atas berkembangnya gangguan jantung. Petunjuk ini seperti halnya ukuran lingkar pinggang.

Para peneliti dari Framingham Heart Study menjumpai, orang dengan ukuran pinggang relatif langsing tetap berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung bila lehernya lebih besar. Leher lebih besar ini didefinisikan sebagai memiliki kadar kolesterol baik lebih rendah. Temuan ini dipresentasikan dalam pertemuan American Heart Association seperti dikutip BBC baru-baru ini.


Tim dari Amerika Serikat meriset lebih dari 3.300 perempuan dan pria dengan usia rata-rata 51 tahun. Prof. Jimmy Bell dari. MRC Clinical Sciences Center menyebutkan, penelitian ini diupayakan untuk mengungkap lebih banyak bukti bahwa kesehatan tidak hanya bergantung pada seberapa banyak lemak tubuh seseorang, tetapi juga letak lemak itu berada. Dalam penelitian ini, rata-rata lingkar leher laki-laki 40,5 cm dan perempuan 34,2 cm.

Penambahan lingkar leher akan meningkatkan faktor risiko. Untuk setiap penambahan lingkar leher mendekati 3 cm, kolesterol baik pada pria kurang dari 2,2 mg/dl darah dan perempuan 2,7 mg/dl. Sebagai catatan, kadar kolesterol baik (HDL) yang lebih rendah dari 40 mg/dl pada pria dan 50 mg/dl pada wanita bisa berarti risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung.

Ukuran leher ini memang tidak membuat perubahan terhadap kadar kolesterol jahat (LDL), tetapi akan memengaruhi kadar glukosa darah. Setiap 3 cm lebih penambahan ukuran leher, kadar glukosa pada pria bertambah hingga 3 mg/dl dan 2,1 mg/dl pada wanita. Peningkatan itu diperkirakan menjadi indikator atas munculnya masalah pada jantung.

Tim periset berspekulasi bahwa lemak leher bisa menjadi “ukuran kasar” dari lemak tubuh bagian atas yang dihubungkan dengan risiko penyakit jantung. Diungkapkan Prof. Bell, “Yang tidak Anda inginkan adalah lemak yang ada di sekeliling hati atau jantung. Hal ini bisa terjadi bahkan bila penampilan fisik Anda terlihat baik-baik saja.”

“Diet tidak dibutuhkan untuk mengubah kondisi ini. Yang perlu dilakukan adalah berolahraga!” katanya.

Sumber: Senior


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: