Posted by: Sps | March 30, 2009

Waspadai Scoliosis

Tonjolan di punggung, disertai sering sakit kepala, kram, kesemutan dan gejala lainnya, merupakan tanda-tanda scoliosis yang sering tidak terdeteksi pada masa kanak-kanak. Padahal setelah remaja, scoliosis bisa menyebabkan tekanan jiwa pada penderitanya.

“Saya terdeteksi menderita scoliosis tahun 1994 ketika duduk di bangku kelas 1 SMP,” demikian tutur Prita (25 tahun). Tidak ada gejala khusus yang membuatnya curiga, kecuali sering sesak napas dan kesulitan ketika harus menjalani beberapa gerakan pada saat olahraga (sit-up dan roll-over). “Jika dipaksakan, punggung sava terasa sakit,” ujarnya. Prita pun memeriksakan diri ke dokter. “Saya diminta dokter membungkuk sambil menahan napas. Ketika itulah baru diketahui bahwa sava menderita scoliosis, tulang punggung saya bengkok ke kanan,” katanya. Memang tampak punggung Prita bagian kanan sedikit lebih menonjol dibanding yang kiri.


Prita masih dianggap beruntung karena kelengkungan scoliosis yang dideritanya sekitar 30 derajat, masih termasuk ringan. Namun dengan berjalannya waktu, penderitaan Prita pun bertambah. “Nyeri punggung merupakan siksaan yang sudah terbiasa saya tanggung, terutama di malam hari atau seusai melakukan kegiatan fisik yang berat,” tuturnya. Dan kini seharian di kantor dan duduk berlama-lama di depan komputer, penderitaan Prita pun bertambah dengan sakit kepala dan leher yang menjalar hingga punggung dan pinggul.

Scoliosis bisa muncul dengan gejala lain. Mungkin Anda pernah melihat seseorang yang pundaknya miring, yang kiri lebih rendah dari yang kanan (atau sebaliknya). Atau Anda pernah melihat seseorang yang sikap berjalannya miring disebabkan pinggulnya tinggi sebelah. Bisa jadi mereka adalah penderita scoliosis yang gejalanya tidak terdeteksi ketika masih kecil.

Scoliosis perlu ditangani dengan baik, karena seiring dengan pertumbuhan badan si anak, scoliosis bisa mengganggu postur tubnh sehingga membuat penderitanya menjadi minder Tidak hanya itu, penderita scoliosis pun akan `diteror’ oleh rasa sakit dan sesak napas yang berkepanjangan, karena ketidakwajaran bentuk tulang belakang dapat mengganggu fungsi organ tubuh.

Deteksi gejala scoliosis sangat diperlukan, agar Anda bisa mengetahui secara dini apakah seseorang cenderung menderita scoliosis. Apa saja yang harus diwaspadai, dan apa yang harus dilakukan jika seseorang terdeteksi scoliosis?

Kelainan Bentuk Tulang Belakang

Scoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang ditandai melengkungnya tulang belakang ke arah samping (lateral curvature of the spine). Kata scoliosis berasal dari bahasa Yunani scolios yang artinya bengkok atau berputar. Kelainan tulang punggung ini tampak jika dilihat dari belakang.

Jika dilihat dari samping tulang belakang yang normal berbentuk huruf S yang memanjang (elongated S). Bagian depan atas sedikit melengkung ke arah luar dan bagian belakang bawah sedikit melengkung ke arah dalam. Jika dilihat dari belakang, tulang punggung yang normal berbentuk garis lurus dari leher sampai ke tulang ekor. Sedangkan pada penderita scoliosis, akan tampak adanya satu atau lebih lengkungan ke samping yang tidak wajar pada punggung.

Seorang anak didiagnosa scoliosis jika ditemukan dua macam kelainan pada tulang belakangnya, yaitu:
• Lateral curvature: terjadi jika tulang belakang bengkok. Ini bisa dilihat dari belakang ketika penderita pada posisi berdiri dengan tubuh dibungkukkan 90 derajat ke depan. Jika tulang tampak seperti huruf S, bentuknya menyimpang, punggung tidak sama tinggi atau ada tonjolan, berarti scoliosis.

• Rotation: terjadi jika ada sendi tulang belakang yang terputar. Kadarnya hanya sedikit, namun selalu ada pada setiap gejala scoliosis. Aspek ini menyebabkan tulang belakang berbentuk berliku. Penyimpangan kurang dari 10 derajat dianggap masih normal.

Penyebab Scoliosis

Dokter Michael Cornish, chiropractor lulusan RMIT, Melbourne, Australia, yang berpraktik di klinik Chiropractic di Indonesia, mengatakan. “Secara keilmuan, penyebab scoliosis tidak diketahui. Namun, secara spekulatif, saya menduga salah satu penyebabnva adalah pola makan yang salah dan postur tubuh yag kurang baik.” Senada dengan pernyataan tersebut Dr Tinah Tan, Chiropractor dari Citylife Chiropractic, mengatakan bahwa kekurangan asam folat pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko sambungan spina tulang belakang pada bayi yang dikandung menjadi tidak sempurna (cacat spina bifida). Keadaan ini dapat memicu scoliosis.

Sedangkan menurut Dr Luthfi Gatam, SpOT, spesialis ortopedi & traumatologi dari RS Fatmawati, bahwa 80% scoliosis tidak diketahui penyebabnya. Ini disebut idiopathic scoliosis. Kata idiopathic menunjukkan bahwa penyebabnya tidak diketahui. Usia penderita bisa di bawah 3 tahun sampai di atas 19 tahun.

Ada juga scoliosis yang diketahui penyebabnya, yaitu dikategorikan sebagai congenital scoliosis atau kelainan bawaan. Ini disebabkan oleh perkembangan tulang belakang yang tumbuh abnormal. Termasuk kelompok ini adalah sindrom kerdil (osteochondrodystrophy). Contoh-contoh tersebut termasuk kategori scoliosis struktural.

Ada pula scoliosis non-struktural yang disebabkan adanya masalah dengan bagian tubuh lain. Misalnya kaki yang tidak sama panjang, sehingga terjadi lengkungan abnormal pada tulang belakang. Kejang otot dan radang otot juga bisa menimbulkan kelainan tulang belakang. Jika penyebab scoliosis didiagnosa non-struktural, penanganannya bukan reposisi tulang belakang melainkan reposisi bagian tubuh yang menyebabkan scoliosis tersebut.

Dari Rasa Sakit sampai Sesak Napas

Kasus scoliosis memerlukan pemeriksaan atau check-up pada waktu-waktu tertentu secara reguler. Dari 1000 penderita anak, 3-5 anak penyakitnya berkembang menjadi lebih parah. Keadaan ini memerlukan penanganan khusus seperti penggunaan brace, terapi kbusus bahkan banyak yang menjalani operasi. Pada orang dewasa scoliosis yang diderita biasanya merupakan kelanjutan kelainan dari masa kanak-kanak yang tidak ditangani dengan baik. Bisa juga akibat proses degeneratif yang terjadi pada sendi-sendi tulang belakang.

Menurut Dr Tinah Tan, seorang chiropractor, kondisi tulang belakang yang tidak sempurna akan menyebabkan fungsi organ yang ada di dalam tubuh menjadi terganggu. Contohnya, scoliosis bisa menghambat pergerakan rusuk dan volume paru-paru (pulmonary hipertention) sehingga penderita sering sulit bernapas (sesak papas). Inilah yang dialami Prita.

Penderita scoliosis juga lebih mudah terkena osteoartritis akibat pergerakan sendi yang terhambat pada satu sisi. Selain itu, scoliosis juga menyebabkan kelelahan tulang dan sendi, sehingga penderitanya sering merasakan nyeri, sakit kepala, kaku otot, atau pegal punggung. Sedangkan penderita lain, Ade Rose (31 tahun) mengalami gejala kesemutan dan kejang kaki ketika hamil. Tingkat keparahan Ade 36 derajat. Setelah melahirkan gejala semakin parah ditambah badan pegal dan kaki kanan ngilu. Menurut Dr Tinah Tan, scoliosis yang parah bisa menyulitkan proses persalinan. Sedangkan Astrid Triandini, penderita scoliosis Yang berusia 21 tahnn, merasakan sakit tulang, pusing kepala, dan ada tonjolan di punggungnya. Tingkat keparahan Astrid 40 derajat.

Scoliosis bisa diderita setiap orang, namun lebih banyak diderita wanita. “Di klinik saya perbandingannva 10:1,” ujar Dr Michael Cornish. Sedangkan di RS Fatmawati rasionya 9:1. “Sampai sekarang masih merupakan misteri, kenapa wanita lebih banyak menderita scoliosis dibanding pria,” kata Dr Luthfi Gatam, SpOT.

Gejala scoliosis biasanya tampak jelas pada usia 9-13 tahun. Ade baru mengetahui dirinya mengalami scoliosis ketika berusia 27 tahun, sedangkan Prita pada usia 11 tahun. Penderita lain, Astrid Triandini (21 tahun) meuyadari ada kelainan tulang belakang ketika duduk di kelas 1 SMU.

Penanganan Medis

Meskipun tidak harus dilakukan, scoliosis yang parah sebaiknya dioperasi, demikian menurut Dr Luthfi Gatam. Dr Michael Cornish juga menegaskan bahwa operasi merupakan usaha terakhir. “Perawatan-perawatan lain harus dicoba terlebih dulu. Jika kondisinya terus memburuk hingga tahap sangat serius (membahayakan jiwa penderita), maka perlu dipertimbangkan untuk dioperasi,” tutur Dr Michael.

Dokter Luthfi Gatam mengatakan, jika baru pada tahap 20 derajat (disebut Cobb angle), hanya akan dilakukan observasi saja. Tahap 20 sampai 40 derajat dianjurkan mengenakan brace, Sedangkan lebih dari 40 derajat perlu dilakukan operasi. Namun, operasi tulang punggung kemungkinan besar menimbulkan rasa takut pada pasien semua usia. Apalagi bila dikatakan bahwa penyembuhannya perlu 5-7 hari, sedangkan redanya rasa sakit pasca operasi membutuhkan waktu lebih lama lagi; kemudian adanya bekas operasi berupa bekas luka yang memanjang.

Dr Luthfi sudah sering mengoperasi pasien scoliosis. Salah satunya Sandra (18 tahun) dengan tahap keparahan 135 derajat. “Dulu ia selalu murung dan menghindari bertemu banyak orang. Terutama di sekolah, Sandra sungguh menderita tekanan batin. Setelah operasi sukses, kini Sandra menjadi gadis yang lincah, ceria, dan energik. dengan tinggi 180 cm, ia sangat percaya diri dan mulai aktif kuliah,” kata Dr Luthfi Gatam.

Penanganan Lain

Menurut penelitian para ahli sejauh ini, selain penanganan medis, penanganan lain seperti stimulasi elektrik, manipulasi chiropractic, dan terapi fisik cukup efektif. Prita tetap menjalani terapi chiropractic dan latihan tertentu yang diberikan oleh chiropractor-nya, meski keadaannya telah membaik. “Agar scoliosis saya tidak bertambah parah,” ujarnya. Sedangkan Astrid merasakan kemajuan yang sangat nyata setelah mengikuti paket perawatan sejak dini tahun yang lalu di klinik “Chiropractic di Indonesia”. Ade Rose mengikuti latihan yoga. “Setiap hari saya melakukan yoga, ibarat minum obat,” kata ibu satu anak ini. Dengan dipandu Ann Baros, gerakan-gerakan Yoga yang dilakukan Ade semakin tepat. “Kini kondisi saya sudah stabil, normal.” Olah tubuh dengan gerakan tertentu yang sesuai kemampuan fisik, bisa membuat kondisi tubuh penderita lebih nyaman.

Berikut ini beberapa penanganan scoliosis yang melibatkan olah tubuh.

• Chiropractic
Seorang chiropractor percaya bahwa tubuh memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Penanganan yang dilakukan chiropractor bersifat memberdayakan tubuh agar kembali memiliki mekanisme dan sistem tubuh yang baik. Demikian pendapat Dr Tinah Tan.

Menghadapi pasien scoliosis, chiropractor akan melakukan pemeriksaan dengan mempelajari postur tubuh pasien (examine posture), mengamati pergerakan tubuh (motion palpation), dan memeriksa ototnya (static palpation). Pasien diminta membuat foto X-ray untuk memastikan kondisi kurva tulang belakangnya. Jika ditemukan adanya masalah, akan dilakukan koreksi (adjustment) dan terapi, atau perawatan (treatment). Pasien juga diminta melakukan latihan tertentu (exercise) dan olahraga yang disarankan.

Olahraga yang disarankan untuk pasien scoliosis antara lain berenang gaya bebas, jogging, yoga, pilates, taichi. “Yang penting teknik dari olah tubuh yang dilakukan harus benar,” ujar Dr Tinah Tan.

• Yoga
Gerakan yoga untuk pasien scoliosis ditujukan untuk mengoreksi dengan cara menarik dan mengarahkan tulang belakang secara tepat, ke depan, samping kiri, dan samping kanan. Demikian menurut Ann Barros, guru yoga asal Santa Cruz, Amerika Serikat, yang sejak kecil menderita scoliosis bawaan. Lebih dari 30 tahun ia mengajar yoga Iyengar. Gerakan ditujukan untuk menarik dan mengembalikan tulang belakang pada posisinya yang alami. “Bukan lurus melainkan ada lengkungannya,” ujarnya.

Jadi, dalam menentukan terapi pasien scoliosis Ann Barros tidak bisa menerapkan sembarang gerakan yoga, tetapi harus mengobservasi pasien terlebih dulu dengan melihat hasil X-ray untuk mengetahui derajat keparahannya. “Ada kalanya saya harus membahasnya dengan seorang ahli tulang belakang,” tutur Ann yang awal Agustus lalu datang ke Jakarta atas undangan Jakarta Do Yoga.

Dalam memandu gerakan pun Ann tidak memaksa, karena semua gerakan merupakan bagian dari observasi. Dari keterbatasan gerak yang dilakukan pasien, sedikit demi sedikit Ann bisa menentukan ketepatan gerak serta alat bantu terapi bagi pasien.

Menurut Elise B. Miller, ahli yoga, dalam tulisannya di situs Yoga for teens with Scoliosis, latihan gerakan yoga (asana) ditujukan untuk memperbaiki postur dan meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot, dengan cara menarik dan memperkuat otot-otot yang menunjang tulang belakang. Posisi Adho Mukha Svanasana dan Urdhva Mukha Svanasana baik untuk membentuk dan memperbaiki lengkungan dan rotasi tulang belakang. Sedangkan Bharadvajasana untuk memperkuat kaki sebagai penyangga tulang belakang.

• Pilates
Ada enam prinsip dalam pilates yang efektif membantu penderita scoliosis, yaitu concentration, control, centering, precision, flow of movement, dan correct breathing technique. Demikian tutur Nancy Wuisan dari Pilates Bodymotion, Bimasena Club, The Dharmawangsa Jakarta.

Concentration artinya setiap gerakan dan hitungan dalam pilates harus dilakukan dengan penuh konsentrasi. Control artinva setiap gerakan harus terkontrol oleh pikiran, jadi bukan pikiran yang dikontrol oleh tubuh. Centering artinya perhatian harus terpusat pada tujuan berlatih pilates, misalnya tujuannya untuk meringankan scoliosis. Precision, setiap gerakan harus dilakukan dengan perhitungan yang tepat, misalnya kalau harus mengangkat kaki setinggi 90 derajat ya harus tepat 90 derajat. Flow of movement berarti gerakan yang dilakukan harus urut dan berkesinambungan, menggunakan napas yang benar yaitu pernapasan perut. Pernapasan perut dapat mendorong tulang belakang bersama otot-ototnva kembali berfungsi secara seimbang.

“Gabungan dari enam prinsip dasar tersebutlah tulang akan membantu mengoreksi scoliosis,” tutur Nancy. Postur tubuh dan pernapasan yang benar, otot yang elastis, akan membuat organ tubuh termasuk tulang belakang kembali berfungsi dengan baik. “Pilates dengan bantuan alat-alat berusaha menyeimbangkan otot-otot, melenturkan otot yang meregang, dan membuat persendian menjadi lebih sehat. Latihan diberikan setahap demi setahap sesuai kemampuan pasien, karena tidak semua gerakan cocok untuk semua pasien scoliosis. Dari gerakan-gerakan awal, bisa diketahui tingkat keparahan pasien. Dengan demikian dirancanglah sebuah program untuk mengatasi masalah yang dideritanya.

Meskipun kini banyak beredar buku dan VCD tentang pilates, namun Nancy Wuisan tidak menganjurkan penderita belajar sendiri. “Setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda. Pilates yang dicontohkm dalam buku dan VCD sifatnya umum. Untuk menghindari cedera atau semakin parahnya scoliosis, sebaiknya latihan dilakukan di bawah pengawasan ahlinya,” tutur Nancy.

Deteksi Dini Scoliosis

Dalam hal deteksi dini scoliosis, orangtua dan guru memegang peran penting. “Lakukan tes Adam Forward Bend (lihat bawah). Pemeriksaan ini hanya makan waktu 30 detik, namun sangat efektif. Bahkan bisa dilakukan saat pelajaran olahraga di sekolah tanpa membuka baju,” saran Dr Tinah Tan.

Karena anak juga banyak menghabiskan waktu di sekolah, sebaiknya guru ikut mengajarkan dan mengawasi postur tubuh yang benar. Baik saat siswa menulis, duduk, berdiri, maupun memegang bolpen.

Bagaimana postur tubuh yang baik?”Dalam keadaan berdiri, usahakan telinga, bahu, lengan, pinggul, dan lutut berada dalam satu garis lurus. Lutut menghadap ke depan dan tarik perut ke arah dalam. Jika duduk, usahakan bagian telinga, bahu, dan panggul dalam keadaan tegak lurus. Jika perlu, daerah panggul diganjal dengan bantal kecil.”

Jangan lupa untuk mengkonsumsi asupan nutrisi seimbang yang diiringi dengan olahraga secara teratur. Ternyata mencegah scoliosis tidak terlalu sulit. Sedikit perhatian pada cara duduk dan berdiri, sudah mencukupi. Nasehat Dr Tinah Tan ini agaknya perlu disosialisasikan.

Bagaimana Mengenali Gejala Scolisis?

Scoliosis sebaiknya dideteksi dini. Karena semakin cepat diketahui, makin mudah posisi tulang belakang dibenahi. Inilah lima gejala scoliosis yang bisa dideteksi dengan jelas, menurut Dr Tinah Tan.

• Kepala miring sebelah (heed tilt). Perhatikan, apakah kedua telinga sama tinggi, apakah posisi wajah cenderung ke satu sisi.

• Bahu tidak sama tinggi (shoulder tilt). Perhatikan apakah posisi bahu sama tinggi, ataukah ada satu sisi bahu yang lebih maju ke depan. Perhatikan juga apakah salah satu tulang scapula (belikat) lebih menonjol dari lainnya.

• Pinggul tinggi sebelah (pelvic tilt). Periksa, apakah pinggul kiri dan kanan sejajar, apakah celana atau gaun yang dikenakan dapat melekat sempurna di tubuh bagian bawah. Perhatikan pula panjang celana, kerah baju, dan panjang lengan sama bagian kiri dan kanannya.

• Kaki tidak seimbang (foot flare). Periksa, apakah telapak kaki rata atau ada bagian yang mengarah keluar. Telapak kaki yang bentuknya kurang sempurna, bisa memicu scoliosis. Perhatikan pula, apakah ada keluhan lain di lutut atau pergelangan kaki.

• Lengkungan tulang belakang (spinal curve). Apakah ada bagian punggung yang salah satu sisinya lebih tinggi? Lihat juga, apakah ada semacam penonjolan di wilayah punggung atau penyimpangan bentuk tulang (tulang tidak lurus). Pemeriksaan tulang belakang ini dapat dilakukan menggunakan metode Adam Forward Bend. Caranya, pasien diminta berdiri dengan lutut sejajar dan rapat. Lalu tubuh dibungkukkan 90 derajat ke depan. jika dia menderita scoliosis, akan tampak adanya penyimpangan bentuk tulang atau bagian pnnggung yang tingginya tidak sejajar. Jika pada saat pemeriksaan dicurigai adanya scoliosis, segera lakukan pemeriksaan radiologi untuk mengetahui ukuran derajatnya, lalu ambil tindakan antisipasi.

Sumber: Majalah Nirmala


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: