Posted by: Sps | January 22, 2009

Sedikit-Sedikit Antibiotik, Bahaya

Pada akhir Desember lalu, dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Prof, Dr. Prijambodo mengingatkan mengenai pentingnya pengendalian penggunaan antibiotika.

Sedikit-sedikit menggunakan antibiotika bukannya membuat tubuh semakin kebal. Sebaliknya, justru membuat gerombolan virus yang menyerang tubuh itu tidak mempan lagi dihajar oleh antibiotik.

Resistensi mikroba

Dalam pidato pengukuhan bertema “Peran Laboratorium Mikrobiologi Klinis dalam Upaya Pengendalian Resistensi Mikroba terhadap Antibiotika di Rumah Sakit” itu Prof. Prijambodo mengakui bahwa akibat penggunaan antibiotik yang tidak pada tempatnya, kini ditemukan bakteri yang kebal terhadap antibiotik.

Bukan hanya itu. Menurut pakar mikrobiologi ini, sejumlah mikroorganisme yang biasanya berjangkit pada binatang, belakangan juga diketahui telah menyerang manusia.

Memang, beberapa jenis penyakit yang disebabkan infeksi berkurang dari tahun ke tahun. Namun, jumlah penyakit infeksi yang sekarang muncul memiliki kualitas yang justru meningkat. Artinya, penyakit infeksi yang ada tidak mempan lagi dilawan dengan antibiotik yang tersedia.

Tahun-tahun belakangan ini, menurutnya, juga banyak bermunculan penyakit baru dengan mikroba yang belum diketahui secara jelas apa jenisnya. Superbugs, demikian para pakar biasa menyebut mikroba yang berdaya tahan tinggi itu.

Banyak pula kasus yang ditimbulkan oleh mikroba yang sebenarnya sudah pernah dinyatakan hilang, tetapi belakangan merebak kembali. Contohnya, penyakit polio yang akhir-akhir ini timbul lagi, setelah sekitar 30-an tahun hampir tak pernah lagi terdengar di Indonesia.

Semua itu penyebabnya tak lain adalah konsumsi antibiotik secara sembarangan.

Dokter rajin meresepkan

Penemuan antibiotik, harus diakui, memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan 6,7 miliar penduduk dunia. Banyak kematian dapat dihindari dan kesehatan dipulihkan segera berkat antibiotik. Akibatnya antibiotik sampai diperlakukan bak obat dewa, yang dianggap mampu mengatasi secara cepat segala macam penyakit.

Saking luar biasa pemujaan terhadap antibiotik, tahun 2000 dalam pertemuan organisasi perdagangan dunia (WTO), antibiotik menjadi salah satu agenda pembicaraan.

Pasalnya, para peternak udang juga memberikan antibiotik kepada golongan makanan laut yang rentan penyakit itu. Dan Jepang adalah negara yang secara tegas menolak udang yang diberi antibiotik.

Dapat dibayangkan apa akibatnya jika kita penggemar udang tanpa disadari kita sekaligus mengonsumsi zat antibiotik yang diberikan kepada udang-udang itu.

Persoalannya di Indonesia adalah, kebanyakan warga masyarakat tidak tahu bahwa antibiotik tidak dapat dikonsumsi sembarangan. Meskipun resminya antibiotik harus diresepkan oleh dokter, di toko-toko obat dan apotek di sekitar perumahan, kita dengan mudah membelinya tanpa resep dokter. Cukup menjawab pertanyaan petugas apotek, siapa yang akan menggunakan dan berapa nomor teleponnya.

Lebih dari itu, terus terang, banyak pula dokter yang, entah karena tidak memperbarui pengetahuannya atau memang tidak memedulikan dampaknya terhadap pasien, sedikit-sedikit meresepkan antibiotik supaya pasien cepat sembuh.

Harap maklum, tingkat kelarisan seorang dokter antara lain ditentukan oleh cespleng atau tidaknya obat yang diberikan.

Sementara itu, daya kritis pasien masih sangat rendah, sehingga apa saja yang diberikan dan disarankan oleh dokter diterima begitu saja dengan penuh kepercayaan.

Sayangnya, kebanyakan dokter kita juga tidak menjelaskan secara gamblang apa saja jenis obat yang diberikan, kenapa diberikan, dan apa dampaknya jika obat diminum atau tidak diminum oleh pasien.

Makin sering sakit

Prof. Dr. IWan Darmansjah, Sp.Fk., farmakolog dari FKUI, kepada tabloid ini beberapa waktu lalu pernah menyatakan bahwa jika kita terbiasa mengonsumsi antibiotik, kuman di dalam tubuh menjadi kebal terhadap antibiotik. Pernyataan tersebut sama dengan yang diungkapkan oleh Prof. Prijambodo. Akibatnya, dosis antibiotik yang harus kita gunakan akan semakin besar.

Dengan kondisi seperti itu, lama kelamaan antibiotik tidak mampu lagi melawan sumber penyakit tersebut, sehingga berujung pada kematian.

“Saya tidak pernah menebus resep antibiotik yang diberikan oleh dokternya anak-anak karena pada akhirnya tidak akan diminum,” ujar Prabandari, 44 tahun.

Ibu lima anak ini, meskipun mengalami berpindah-pindah dokter, akhirnya menandai bahwa hampir pada setiap kasus anak sakit, dokter selalu meresepkan antibiotik. Termasuk jika anaknya sekadar sakit flu atau pilek. Padahal, penyakit seperti itu sama sekali tidak memerlukan antibiotik, kecuali ada komplikasi.

“Saya juga punya kesan, anak teman-teman saya yang sangat patuh minum antibiotik, malah jadi gampang sakit. Sedikit-sedikit ke dokter, sedikit-sedikit antibiotik, jadinya sedikit-sedikit sakit,” ungkapnya terus terang.

Oleh sebab itu, Prof. Prijambodo mengingatkan perlunya meningkatkan peran laboratorium mikrobiologi klinik, setidaknya agar penggunaan antibiotik di rumah sakit dapat dikendalikan.

Harapannya, antibiotik diberikan hanya kepada pasien yang setelah melalui hasil pemeriksaan laboratorium memang dipastikan memerlukannya. Hal itu mengingat bahwa resistensi mikroba terhadap antibiotik sudah sedemikian membahayakan manusia.

Dan jika Anda menjadi pasien, mulailah bersikap kritis menanyakan setiap obat yang diresepkan oleh dokter. Kadang-kadang Anda tidak mampu mengenali nama obat itu, yang ternyata adalah antibiotik juga.

Bagaimanapun, Anda punya hak untuk melindungi tubuh Anda sendiri.

Sumber: Senior


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: