Posted by: Sps | December 20, 2008

Jangan Biarkan Kesepian Mengganggu Kesehatan Anda!

Pernahkan Anda merasa sendirian, seolah tak ada yang peduli dan memperhatikan? Hati-hati! Itu adalah tanda-tanda kesepian, yang menurut Dr Surjo Dharmono SpK (K) bisa jadi awal munculnya depresi. Dan, seorang profesor neuropsikologi, Robert Wilson, mengatakan bahwa orang yang mengalami kesepian berisiko dua kali lebih besar untuk menderita Alzheimer.

Yol Yulianto, seorang ilustrator yang meninggalkan Semarang, kampung halamannya, dan kini menetap di Jakarta bercerita, “Waktu pertama kali datang ke Jakarta, aku merasa kehilangan nuansa keakraban di tengah keluarga. Perasaan itu makin terasa ketika pulang dari kantor atau saat libur. Rasanya sepi, enggak ada bapak, ibu, dan adik-adik yang bisa diajak mengobrol dan bercanda.”

Apakah itu yang disebut kesepian? Ternyata bukan. Menurut Dr Surjo Dharmono, SpKJ (K), psikiater di RS St. Carolus Jakarta, yang dirasakan oleh Yol, dan mungkin kebanyakan perantau, adalah rasa rindu. “Kerinduan justru sifatnya positif karena kerinduan itu sendiri sudah membuat orang merasa ditemani dengan adanya keyakinan bahwa jauh di sana ada orang-orang yang menyayangi kita,” kata Surjo. Lagipula, kerinduan itu pulalah yang membuat banyak orang tetap merasa bahagia, meski harus berdesak-desakan dan merasakan kemacetan di jalan saat mudik lebaran.

Kesepian ternyata juga berbeda dengan kesendirian. Kesendirian justru bisa dirasakan sebagai pengalaman yang positif dan menyenangkan serta menyegarkan emosi, karena kesendirian dapat digunakan untuk menikmati ketenangan, melakukan refleksi diri, dan mencari jati diri.

Kesepian di lain pihak, lebih dari sekadar perasaan ingin ditemani atau melakukan sesuatu dengan orang lain. Orang yang kesepian merasakan kekosongan dan perasaan terisolasi yang kuat, seolah terputus, tidak tersambung, dan teralienasi dari orang lain.

Kesepian bagian dari kepribadian

Menurut Surjo Dharmono, kesepian cenderung mudah muncul pada orang-orang dengan kepribadian tertentu. Salah satunya adalah pada orang dengan kepribadian cemas-menghindar atau yang populer disebut minder. Mereka ini sering merasa tidak yakin dirinya akan diterima oleh orang lain. Kesepian terjadi terutama karena kesulitannya untuk masuk dalam kelompok atau lingkungan yang baru.

Tipe kepribadian lain, yang juga rentan terhadap kesepian adalah tipe histrionik. Orang dengan tipe kepribadian ini cenderung mengharapkan perhatian berlebih dan mendominasi kelompok. Akibatnya, kesepian akan segera muncul ketika kebutuhannya untuk diperhatikan tidak terpenuhi.

Kepribadian dependent yang cenderung sangat bergantung pada orang lain dan tidak bisa membuat keputusan sendiri juga merupakan tipe kepribadian yang mudah merasa kesepian. Keadaan berpisah dari orang-orang yang biasa membantu dan mendukungnya menjadi pemicu munculnya rasa kesepian itu.

Munculnya kepribadian-kepribadian ini tentu tak lepas dari pola asuh di masa kecil. Surjo menyebutkan, pola asuh yang terlalu banyak mengatur/mengharuskan, terlalu melindungi (over protective), dan tidak konsisten (ambivalent) membuat seseorang tidak bisa berkembang optimal, tidak berani mengambil inisiatif, dan sulit mengetahui mana yang benar dan salah, yang akhirnya berkembang menjadi kepribadian tidak matang yang rentan terhadap kesepian tersebut.

Kesepian banyak terjadi pada orang lanjut usia

Selain pada orang dengan tipe kepribadian tertentu, kesepian juga lebih banyak terjadi pada orang lanjut usia. “Orang tua telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Mereka kehilangan rutinitas dan kesibukannya setiap hari karena sudah pensiun, kehilangan teman dekat karena meninggal, mungkin juga kehilangan pasangan hidup, sekaligus ditinggalkan anak karena sibuk bekerja atau karena telah memiliki keluarga sendiri,” kata Surjo memberi alasan.

Karena itulah, menurut Surjo, para orang lanjut usia perlu membentuk komunitas dengan sesamanya, atau bergabung dengan kelompok kegiatan tertentu yang sesuai dengan minatnya.

Surjo menambahkan, pemerintah juga diharapkan untuk lebih memperhatikan orang lanjut usia dengan menyediakan fasilitas yang ramah bagi mereka. Beberapa di antaranya adalah menyediakan sarana transportasi yang mudah diakses tanpa harus melewati jembatan tinggi, membuat tempat duduk khusus untuk orang lanjut usia baik di taman kota, di mal, juga di tempat-tempat umum lainnya; menyediakan bank atau kantor pos yang tidak mengharuskan para orang tua untuk berdiri mengantri ketika mereka mengambil pensiun, misalnya. Bahkan jika memungkinkan, membangun perumahan khusus untuk orang tua dengan fasilitas lengkap yang memungkinkan mereka bisa mengurus dirinya sendiri secara mandiri.

Kesepian karena lingkungan sosial yang tidak sating peduli

Tentu orang muda juga tak lepas dari kemungkinan mengalami kesepian. Apalagi, dengan gaya hidup sekarang ini yang membuat orang semakin individualistik. Ya, semua orang sibuk bekerja dari pagi sampai malam karena tuntutan kerja yang semakin tinggi. Waktu yang tersisa untuk bertemu keluarga, teman, bahkan tetangga semakin sedikit.

Mungkin uang untuk memenuhi kebutuhan hidup bisa tercukupi, namun di sisi lain ada sesuatu yang hilang, yaitu kehidupan sosial. Seperti yang dirasakan oleh Tommy Basoeki, seorang karyawan swasta di Surabaya, “Kegiatan yang itu-itu saja – pagi ke kantor malam pulang ke rumah, besok ke kantor lagi lalu kembali lagi ke rumah – kadang membuat aku merasa kesepian. Lama-lama enggak ada lagi teman karena pergaulanku semakin sempit.”

Surjo Dharmono mengakui, masyarakat kota sekarang ini cenderung tidak saling peduli karena sibuk dengan kepentingannya sendiri, sehingga mencetuskan rasa kesepian itu. “Itulah mengapa orang kota lebih mudah merasa kesepian dibandingkan orang desa,” katanya.

Kesepian bisa jadi penyakit!

Ternyata, yang membedakan orang kota dan orang desa tidak berhenti pada masalah kesepian saja. Penelitian yang dilakukan oleh James J. Lynch, seorang spesialis kesehatan psikosomatis di University of Maryland Medical School, bahkan menunjukkan adanya perbedaan kondisi kesehatan pada penduduk wilayah dengan yang berbeda kulturnya.

Di Nevada, sebuah negara bagian Amerika yang memiliki orientasi kehidupan yang lebih individualis angka kematian akibat penyakit jantung lebih tinggi dibandingkan negara tetangganya, Utah, yang memiliki tradisi kekeluargaan yang lebih kuat. Dari penelitian tersebut, Lynch, yang menulis buku “The Broken Heart: The Medical Consequences of Loneliness”, menyimpulkan bahwa isolasi sosial akan menimbulkan kemerosotan emosi dan fisik.

Surjo menambahkan, ketika kesepian telah membawa seseorang kepada keadaan depresi, hormon-hormon dalam tubuh seperti adrenalin, serotonin, dan kortisol akan terpengaruh. Aktivitas hormon inilah yang akan memicu munculnya penyakit-penyakit metabolik, penyakit degeneratif, dan gangguan pada sistem kardiovaskular tubuh.

Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Profesor Steve Cole dari University of California, Los Angeles, tentang hubungan antara kesepian dan sistem imunitas tubuh. Penelitian oleh Cole dan timnya dilakukan dengan mengambil darah subyek penelitian dan mempelajari aktivitas genetik sel sistem kekebalan tubuh, yaitu sel darah putih yang melindungi diri dari materi asing seperti virus dan bakteri.

Dari 209 sampel darah orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dekat dengan seseorang selama 4 tahun, ditemukan berkurangnya respons imunitas tubuh terhadap kerusakan jaringan, inflamasi kronis, penyakit jantung, gangguan pada pembuluh darah, arthritis, alzheimer, dan penyakit lainnya.

Pentingnya kehangatan dalam keluarga dan hubungan sosial

Gangguan kesehatan ini menurut Lynch muncul karena kebutuhan dasar biologis untuk membentuk hubungan antar manusia, tidak terpenuhi. “Mengobati pasien kesepian dengan pil adalah terapi yang kontra produktif, karena yang dibutuhkan sebenarnya adalah kontak dengan manusia lain!” kata Lynch tegas.

Kesimpulan ini diambil karena Lynch telah melihat bukti dalam eksperimennya, bahwa manusia yang mengalami koma pun akan menunjukkan kenaikan detak jantung ketika tangan mereka disentuh oleh dokter atau perawat.

Memang, cara alami yang dilakukan manusia untuk menghindari kesepian, menurut Surjo, adalah menggabungkan diri dengan orang lain. Upaya ini pula yang digunakan Tommy untuk menghilangkan kesepian yang dirasakannya, “Saya menghubungi lagi teman-teman lama, lalu mengumpulkan dan membuat acara bersama saat ada waktu luang untuk memperluas kembali jaringan pertemanan yang sempat hilang karena beberapa tahun hanya disibukkan oleh pekerjaan.”

Selain teman, keluarga, dan orang lain yang sama minatnya, ternyata kontak dengan hewan dan benda lain juga mampu menghilangkan kesepian. Nicholas Epley, asisten profesor ilmu perilaku di University of Chicago’s Graduate School of Business, di Amerika Serikat mengatakan, “Ketika orang merasa koneksinya dengan orang lain kurang, mereka akan cenderung melihat hewan kesayangan, gadget atau barang-barang lain sebagai sesuatu yang seperti manusia, yang bisa berpikir, penuh perhatian, bijaksana, dan bisa menghibur.” Para ahli sosial menyebut fenomena ini sebagai anthropomorphism.

Meski demikian Surjo mengingatkan, hal terbaik untuk menghapuskan kesepian adalah dengan membuat hubungan yang sifatnya timbal balik. Hal ini bisa dilakukan pada sesama makhluk hidup, dan bukan dengan benda mati.

“Game dan hiburan lain di komputer atau handphone juga benda-benda kesayangan, hanya memberikan hiburan sesaat yang justru akan membuat orang semakin tenggelam dalam kesendiriannya,” kata Surjo. Sebaliknya, ketika kita bersentuhan dengan hewan, akan terasa ada yang menemani. “Hewan bisa merespon kita dengan sentuhan dan tingkah laku yang juga memberikan kehangatan pada manusia,” kata Surjo.

Tentu saja, kehangatan yang paling utama seharusnya didapatkan manusia dalam keluarganya, selain juga rasa aman. “Jika kehangatan dalam keluaga telah diperoleh, maka akan mudah bagi orang itu untuk mendapatkan kehangatan tersebut dalam komunitas yang lebih luas, sekaligus menularkannya,” kata Surjo.

Lynch pun sangat percaya bahwa pola perilaku memiliki peran penting dalam menyembuhkan kesepian. Karena itu menurut Lynch, solusi tepat untuk menyembuhkan penyakit kesepian ini adalah dengan menguatkan kembali pentingnya ikatan dalam keluarga, teman, dan antar tetangga. “Keluarga dan kehidupan sosial memiliki fungsi yang sama pentingnya dengan diet dan olahraga,” tegasnya.

Sumber: Nirmala, November 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: