Posted by: Sps | August 17, 2008

Narsisme, Kagum pada Diri Sendiri

Pada umumnya dalam diri seseorang terdapat kecenderungan mengagumi diri sendiri. Hal ini berkaitan dengan harga diri. Orang yang merasakan adanya hal-hal positif dalam dirinya sendiri tentu saja akan menyukai diri sendiri dan mengembangkan perasaan bahwa dirinya berharga.

Hal ini memberikan ketenangan batin dan merupakan sumber bagi kesehatan mental. Jadi, mengagumi diri sendiri dalam batas tertentu justru merupakan indikasi kesehatan mental.

Sayang, sebagian kecil dari kita memiliki kekaguman pada diri sendiri secara berlebihan. Sebutlah namanya Narsi. Ia seorang ibu berusia 50 tahun yang selalu menjaga penampilan, mengesankan dirinya sebagai seseorang yang anggun.


Butuh Pasokan Pujian
Melihat penampilannya, orang tidak akan mengira ibu ini memiliki ketergantungan sangat besar pada figur dewasa lain, yang dirasanya mampu memberikan pasokan cinta, perhatian, pujian, dan kebanggaan bagi dirinya (pasokan narsistik). Dengan figur dewasa lain yang tak cukup memberi kepuasan atas dorongan narsismenya, ia cenderung menghindar, bahkan memutuskan hubungan.

Ia sulit memahami orang lain, dan dalam perjalanan hidupnya ia telah ditinggalkan oleh orang-orang lain, termasuk keluarga besarnya. Berulang kali ia mengalami gejala depresi cukup berat, dengan keinginan melukai diri sendiri.

Beberapa konselor, baik psikolog maupun bukan psikolog, telah dimintai bantuan. Sayangnya, ia hanya mendengarkan hal-hal positif yang meningkatkan harga dirinya, dan sebaliknya selalu menolak masukan yang menunjukkan kekurangannya.

Tidak jarang ia memamerkan bagaimana komentar orang lain yang mengakui keunikan atau idealisme yang ia junjung tinggi. Hal itu dilakukannya ketika ia merasa harga dirinya terancam saat menerima masukan yang mengoreksi kebiasaan atau pola pikirnya.
Tampak bahwa ia sangat bangga dan mengagumi dirinya sendiri. Ia menganggap semua kesalahan orang lain, bila ada hal yang tidak memuaskan narsismenya.

Pengertian Narsisme
Narsisme merupakan salah satu bentuk gangguan kepribadian (personality disorder), merujuk pada pola-pola perilaku yang merusak hubungan dengan orang-orang lain di sekelilingnya.

Narsisme muncul dengan gejala utama rasa kagum yang berlebih-lebihan pada diri sendiri, merasa selalu berhasil dan unggul, selalu mencari perhatian dan pujian, dan tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

John C. Nemiah, MD, profesor psikiatri dari Harvard Medical School dalam bukunya Foundations of Psychopathology menjelaskan istilah narsisme: berasal dari kata Narcissus, nama seorang pemuda tampan dalam mitos Yunani kuno.

Konon suatu hari Narcissus menangkap citra wajahnya pada permukaan air yang tenang di hutan, dan sontak ia jatuh cinta pada diri sendiri. Selanjutnya ia putus asa karena tidak mampu memenuhi apa yang sangat diinginkannya; ia bunuh diri dengan sebilah belati. Dari tetesan darahnya yang jatuh di dekat air, tumbuhlah bunga yang sampai sekarang dikenal dengan nama Narcissus.

Dari penjelasan di atas, tergambar adanya kesulitan besar berhubungan dengan orang lain bila kita terlalu mengagumi diri sendiri. Kekaguman pada diri sendiri yang berlebihan membuat kita selalu lapar untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan diri sendiri, selalu mencari perhatian dan pujian, serta tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

Bagaimana Terjadinya?
Kita semua memiliki tingkat harga diri bervariasi. Dalam rangka menemukan diri dalam keadaan berharga, seseorang mungkin harus merasakan bahwa dirinya dicintai orang lain, dirinya kuat dan berkemampuan, serta bahwa dirinya baik dan mencintai. Keyakinan bahwa diri tidak dicintai, tergantung, atau dalam keadaan buruk, menghasilkan rasa kehilangan harga diri, dan dapat berakibat depresi.

Menurut Nemiah, umumnya perasaan harga diri yang rendah dan depresi karena jatuhnya angan-angan ideal hanya berlangsung dalam waktu singkat. Dengan mudah kita dapat kembali merasakan ekspresi kasih sayang dan kenyamanan yang diberikan orang lain. Kita dapat ”belajar dari kegagalan” dan merencanakan bertindak lebih baik pada masa yang akan datang.

Kita dapat merefleksikan bahwa orang lain juga bisa melakukan kesalahan, dan tak seorang pun sempurna. Kesalahan adalah manusiawi. Kita mampu mengkritisi diri sendiri, tetapi pada saat yang sama juga bersikap toleran terhadap diri sendiri.

Pada orang tertentu, yang dibesarkan oleh orangtua yang menanamkan standar dan idealisme tidak realistis (sehingga menghasilkan perasaan tidak mampu dan ketergantungan), setelah dewasa ia akan mengembangkan ciri-ciri sifat seperti ketika masa kanak-kanak. Idealisme, tujuan, dan kebutuhan yang ada padanya seringkali melebihi kapasitas diri.

Kegagalan mengakibatkan perasaan tidak cakap, tidak berdaya, menderita harga diri rendah, dan depresi. Akibatnya ia secara eksesif (berlebihan) mengkritisi kelalaian-kelalaiannya.

Cinta, perhatian, dan kebanggaan dari orang lain merupakan hal yang sangat penting bagi harga dirinya, dan kebutuhannya akan hal tersebut tidak kunjung terpuaskan (terus kelaparan).

Menurut Nemiah, keadaan tersebut merupakan wujud ketergantungan oral (oral dependency). Dikatakan demikian karena elemen ketergantungan tersebut dan hambatannya dalam relasi dengan orang lain merupakan hasil dari periode masa kanak-kanak awal (bayi), yaitu ketika dorongan oral (refleks mengisap) berkembang dan anak sangat tergantung pada orangtuanya. Berkembangnya narsisme dapat berlangsung terus hingga seseorang dewasa.

Lingkaran Setan
Pada penderita narsisme terdapat hubungan erat antara kebutuhan narsistik dengan kemarahan, bila kebutuhan itu tidak terpuaskan. Kita suatu saat bereaksi tidak setuju dan marah ketika gagal mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Pada orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik hal itu juga terjadi, tetapi dalam keadaan lebih rumit. Kebutuhan dan tuntutannya atas orang lain lebih kuat dan lebih sering dibanding orang dewasa yang berkepribadian matang.

Akibat adanya perasaan lemah, ketidakberdayaan, dan ketidakmampuan yang dialami secara intensif; dan seringnya terjadi ketidakpuasan (kekecewaan); ia mulai berharap, seringkali mencari, menyeberang ke orang lain, dan makin kuat sensitivitasnya terhadap penolakan.

Reaksi-reaksi kemarahannya sangat kuat. Akibatnya orang lain akan sangat marah kepadanya. Ini bertentangan dengan harapannya untuk menjadi orang yang baik dan mencintai, sehingga menambah perasaan ketidakcakapan, ketidakberdayaan, dan rasa bersalah.

Akibat selanjutnya, ia mulai terluka, terasing, dan mendorongnya menjadi orang yang sangat membutuhkan dukungan, yang selanjutnya menambah perasaan tidak aman dan kekecewaan. Penderita narsisme terjebak dalam lingkaran setan, di mana sebuah tindakan dapat membuat mereka semakin mengalami kesulitan.

Kondisi psikologis ambivalen (atau keadaan memiliki hubungan yang ambivalen dengan seseorang yang penting) seperti itu, jelas bukan keadaan yang nyaman.
Nemiah juga menjelaskan bahwa penderita narsisme besar kemungkinannya menderita kesulitan emosional, bila dihadapkan pada kematian individu tempat dirinya bergantung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan narsistiknya.

Cara Keluar dari Lingkaran
Sesuai latar belakangnya dalam keluarga, Narsi adalah anak kesayangan orangtuanya. Segala kebutuhannya sampai saat berkeluarga, materi maupun nonmateri, selalu di-support orangtua. Ibunya adalah figur tempat ia bergantung, yang dapat memenuhi kebutuhan narsismenya.

Bersama Ibu ia selalu dapat melihat dirinya sebagai anak kesayangan yang manis dan sempurna. Namun, tanpa disadari, sebenarnya ia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Sampai akhirnya ketika kedua orangtuanya meninggal, ia sungguh tidak berdaya. Dalam kesulitannya mengatasi problem emosi dan kesulitan berhubungan dengan orang lain, ia semakin masuk dalam lingkaran setan narsisme. Adakah cara untuk keluar dari lingkaran setan narsisme? Tentu saja selalu ada cara memutus lingkaran setan, yaitu dengan mengambil jalur lain; tidak mengikuti dorongan emosi atau dorongan bertindak yang diarahkan oleh narsisme.

Untuk itu diperlukan kesediaan mengamati gerak-gerik emosi dan keinginan-keinginan di balik perilaku kita dalam berhubungan dengan orang lain, supaya dorongan yang egoistis dan tidak realistis dapat dikenali. Selain itu juga harus mulai belajar berempati: membiasakan diri mengamati masalah dari perspektif orang lain. @

Sumber: Senior


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: